Waktu di Saat Ia Pergi

Waktu di Saat Ia Pergi

            Satu per satu orang keluar masuk hotel ini, tak ada yang menyalahkan mereka, toh mereka mengeluarkan uang cukup banyak guna menikmati fasilitasnya. Semua orang bebas melakukan apapun asalkan menuruti tata tertib.

            Sabana mengambil sebuah payung di rak penyimpanan payung dekat pintu keluar hotel, ia membuka payung tersebut sebelum ia melangkahkan kaki ke luar, di mana sedang terjadi hujan lebat.

***

`           Memang aneh rasanya jika hotel dijadikan tempat menetap layaknya apartemen, tapi dengan berbagai alasan Savana memilih untuk tinggal di hotel ini selama SMA.

            Setelah tiba di sofa dekat meja resepsionis ia refleks mundur tiga langkah untuk menghindari tumpahan susu stoberi milik tamu yang baru saja datang.

Savana bernapas lega dan orang tua dari anak tersebut meminta maaf lalu ia duduk di sofa sambil merogoh tas sekolahnya untuk mencari ponsel pintarnya, namun saat itu juga matanya terbelalak kala menyadari sesuatu.

            “Ini seperti kemarin!” Savana berdiri untuk melihat sekelilingnya. Sama. Itulah kesan yang pertama kali terbesit di pikirannya saat membandingkan suasana sekarang dengan kemarin.

Ia memejamkan matanya.

            “Jika benar ini kemarin, pasti ada sedikit keributan kecil di depan pintu lift utama”

Tak lama kemudian jantungnya terasa berdegup kencang saat melihat beberapa orang menatap bingung ke arah pintu lift utama.

            Kemarin ia tidak datang ke sana untuk memastikan permasalahannya tapi kali ini ia menghampirinya.

            Empat orang teknisi datang membawa beragam alat. Pintu lift tersebut terbuka dan ada lima orang yang keluar dari lift tersebut dengan cemasnya.

            Perhatian Savana tertuju pada seorang gadis seusianya yang mengenakan kardigan hitam sehingga menutupi seragam sekolahnya. Saat ia menatap wajah gadis itu ia seperti mengingat seseorang. Ia berlari ke meja resepsionis untuk menanyakan beberapa hal.

            “Orang itu benar-benar Sabana Rinetta dan… ah aku ingat!” Savana mencoba mengentikan tangan kanannya yang bergetar.

            Ia memejamkan mata lalu ia seperti melihat sebuah rekaman kegiatannya kemarin, di mana ia melihat Sabana dan hal-hal lain yang pengulangan satu hari yang lalu.

            Rekaman itu terus berjalan mundur hingga terhenti saat ia bangun dari tidurnya kemarin.

Savana menarik napasnya seraya bergumam, “Aku tau apa yang harus kulakukan”

Setelah itu ia bergegas ke suatu tempat.

***

            “Tunggu… Sabana!”

            Sabana menengok ke belakang dahinya mengerut, ia berdiam diri membiarkan Savana mendekat. Melihat ekspresinya yang bingung Savana mengerti.

            “Aku Savana Emilyona, penghuni kamar sebelahmu”

Sabana menarik napasnya lalu memalingkan wajahnya.

            “Tumben keluar dari hotel—”

            Belum sempat Savana melanjutkan perkataannya, Sabana segera memotongnya, “Aku hanya ingin saja” tak lama kemudian Sabana melambaikan tangannya, lalu sebuah taxi berhenti dan Sabana pun menumpangi taxi tersebut tanpa pamit pada Savana. Savana yang melihatnya hanya tersenyum ia membalikan badannya dan berajalan lagi.

***

            Warna langit yang tadinya biru kini telah berubah menjadi semu oranye karena matahari mulai mengumpat ke barat. Sabana kerepotan membawa beberapa kantong penuh berisi beberapa benda dan makanan.

            Sabana yang baru saja turun dari bis langsung duduk di bangku guna beristirahat sejenak.

Sabana terkejut bukan main saat mendapati Savana-gadis misterius yang tahu tentang dirinya itu kini berada di sampingnya.

            “Aku baru pulang sekolah, jadi wajarkan kalo ketemu di sini, hehe” Savana menjawab pertanyaan yang baru saja ingin ditanyakan Sabana, Savana mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke depan.

            “Apa yang kamu beli sampai-sampai banyak seperti itu?”

            “Hanya makanan siap saji dan… hey, aku lupa beli obat anemiaku!” Sabana menepuk dahinya dan di Saat Sabana kesal karena melupakan sesuatu Savana tertawa pelan.

            “Mau ke hotel?” Akhirnya Sabana bertanya. Savana mengangguk.

            “Aku boleh minta bantuan kamu buat simpan ini di depan kamar aku gak?” Sabana memberikan beberapa jinjingannya pada Savana. Dengan senang hati Savana menerima permintaan Sabana.

            “Sekarang aku ulang tahun. Jadi sebagai bayaran beri aku hadiah!” kata Savana keras. Setelah melihat anggukan Sabana, Savana berjalan riang meninggalkan halte.

***

            Bersama gelap yang mulai menyelimuti kota kecil ini hujan turun menimbulkan aroma khas jalan kering dan berdebu lalu tersiram air. Savana berjalan pelan sambil memperhatikan banyak objek sepanjang matanya memandang di trotoar.

            Savana pergi ke tempat ini karena dorongan hatinya sendiri, ketika melihat arlojinya air matanya jatuh, sangat banyak. Ia memejamkan matanya guna menunggu sesuatu. Sesuatu itu sangat berat terasa.

            Dari kejauhan terdengar suara mobil yang mendekat ke arahnya, hanya menunggu beberapa detik lagi saja mobil tersebut terbanting ke arah Savana, Savana yang melihatnya tak bisa bergerak, ia hanya pasrah akan laju mobil tersebut.

            Lampu mobil yang menyala tersebut semakin dekat, cahaya itu sangat menyilaukan.

            Tangannya terasa sakit dan ngilu, kepalanya juga terasa berat dan kehangatan tubuh Sabana berhasil membuat Savana membuka matanya. Menyadari bahwa ia bisa sepenuhnya sadar artinya ia baik-baik saja. Ia segera melihat  Sabana yang sama terbanting ke tanah pinggir trotoar yang tak jauh dengannya.

            “Syukurlah masih sempat”

            Setelah mengatakan itu Savana memeluk erat Sabana, luka-luka kecilnya tak dipedulikannya. Sabana pun sama, mereka menangis dengan tak henti-hentinya bersyukur.

            Tak lama kemudian suara sirine ambulans dan beberapa mobil polisi mulai berdatangan.

A cry for help. Ungkapan untuk meminta bantuan. Sore tadi aku mendengar langsung darimu. Dan ini hadiah dariku” bisik Sabana.

***

            Semenjak Savana kembali ke masa lalu, meskipun hanya satu hari, ia berhasil memperbaiki suatu hal yang sangat berharga, yakni sebuah ikatan persahabatan.

            Savana lega karena tidak perlu melihat darah mengalir yang berwarna merah pudar karena terguyur air hujan untuk kehilangan Sabana, karena pada hari itu Sabana menjadi korban tabrak lari dan nyawanya tak terselamatkan.

            Sekarang pun Sabana memang telah pergi selamanya, tapi dengan cara yang lebih wajar. Savana dan Sabana sempat dirawat ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pengecekan dan mengobatan kesehatannya, mereka baik-baik saja dan bahkan sempat berfoto bersama. Tetapi Sabana tiba-tiba mengalami penurunan kesehatan karena anemia akut yang dideritanya dan di hari yang sama Sabana pergi untuk selamanya.

            Saat itu pula Savana mengerti kenapa ia bisa kembali ke hari di mana yang paling menyakitkan bagi Sabana dan sekarang tentu saja Savana menyadari bahwa dirinya benar-benar terlibat di sana.

            Ia hanya perlu membuat Sabana yang kesepian menikmati kebahagiaan bersama seorang teman dan membuat kematian Sabana lebih wajar karena kebaikan Sabana yang menolongnya saat kecelakaan.             Bedanya saat itu Sabana ragu dan tidak ada niat sedikitpun untuk menolong Savana, namun saat pengulangan waktu itu Sabana sudah mengenal lebih Savana hal itu menjadikan ia sangat ingin melindungi Savana yang sudah dianggapnya sebagai teman satu-satunya yang dimilikinya.

            Sedangkan tugas dari Savana di sini adalah membuat Sabana merasakan kebahagiaan sebagai bayaran kebaikannya.

***

            Savana dan Sabana terlihat akrab, kurang lebih seperti itulah deskripsi dari sebuah foto yang kini terpajang di kamar hotel Savana. Setiap kali Savana melihat foto tersebut ia tersenyum dengan perasaan bahagia yang mengiris hatinya.

            Kini Savana berada pada waktu di saat Sabana telah pergi, tetapi Savana tidak pernah merasa bahwa ia telah kehilangan seseorang yang dianggap sebagai sahabat pertamanya. Dan Savana mengerti bahwa semua itu terjadi karena kekuasaan, ketetapan dan cara bagaimana Tuhan menyayangi makhluknya.

Selesai



Terima kasih telah membaca cerpen ini ^^

Leave a Reply