Aku mencintai Semesta

saat ia sedang bernyanyi lirih

tentang cintanya untuk Langit

Aku juga mencintai Langit

saat ia sedang kasmaran

dengan Sang Dewi Malam

Tapi aku lebih mencintai Mentari

yang setiap saat menyerupai kesedihanku

dan kemalanganku

Betapa indahnya waktu berlagu

tentang cinta, kehidupan,

pengabdian, dan rasa sakit

Ketika Bumi menjadi ingatan Langit

akan Semesta, Mentari datang

bersama kenangan penuh derita

Aku mencintai Semesta

yang terus bergolak

bersama Supernova dan Lubang Hitam

memercikkan delirium kepada Langit

agar Langit tahu bahwa aku mencintainya

meski tak sanggup kuungkapkan

Aku mencintai Langit

dengan segenap radiasi benda hitamnya

Dan Aku mencintai Mentari

dengan segenap keluh kesah,

asa, darah, keringat, dan suka dukanya