Tempat di Mana Tidak Ada Aku

Tempat di Mana Tidak Ada Aku

Uap teh hangat itu menghangatkan wajahku—seseorang yang katanya sering terlihat murung. Kedua telapak tanganku memegang gelas yang berisi teh hangat ini sehingga kehangatan menjalar ke tubuhku, aku menengadah memperhatikan beberapa ornamen klasik yang ada di langit-langit lalu memejamkan mataku perlahan dan bertahan beberapa saat.

Mataku terbelalak ketika tidak merasakan kehangatan dari gelas berisi teh hangat ini. Tanpa membuang waktu aku berdiri dan membetulkan letak jaket biru tua yang menutupi seragam SMA-ku.

 

Aku terus berjalan di bawah sinar lampu yang terpasang di sepanjang trotoar. Gelapnya malam sama sekali tidak menyeramkan karena ada ribuan cahaya buatan berwarna-warni menerangi jalan dan beberapa sudut lainnya, kendaraan yang berlalu lalang pun masih banyak seakan-akan akan terus ramai. Meskipun demikian, tetap saja hatiku gelisah.

Semakin cepat kuingat kegelisahan itu, semakin cepat juga aku melangkahkan  kakiku. Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya aku tiba di depan rumahku.

 

Napasku masih tersenggal-senggal, tetapi kucoba menyembunyikannya dan mulai mengetuk pintu. Setelah tiga kali mengetuk pintu dan mematung menunggu jawaban, aku  benar-benar kecewa.

Kulepaskan tas sekolah yang selama ini di bawaku ke depan pintu lalu aku duduk di kursi yang ada didekatnya dan bersandar sambil memeluk tubuhku yang kedinginan.

“Masuk!”

Suara itu terdengar setelah suara pintu yang terbuka perlahan. Aku terkejut namun senang saat melihat ayah membukakan pintu dan bicara padaku. Aku mengangguk lalu mengambil tas sekolahku tadi dan masuk ke dalam rumah.

“Ayah ma—“ belum sempat kuucapkan sebuah kalimat yang ingin aku kemukakan pada ayah, aku harus menahan perkataan itu karena aku tak tahan meliat tatapan ayah yang tidak bersahabat padaku dan aku juga tak mau istirahat ayah tertanggu terlalu lama.

Aku tertunduk dan membuang napas. Ketika kusadari malam semakin larut aku memutuskan untuk segera membersihkan diri dan beristirahat.

Ini sudah lewat tengah malam namun aku masih terjaga. Sebenarnya ini sudah hal biasa, sampai subuhpun jika aku tidak tidur adalah hal biasa bagiku. Aku membaringkan tubuhku sambil mendengarkan musik yang terputar lewat headphone mungil kesayanganku.

“Aku lelah” gumaman iu rasanya kalimat yang sudah mewakili semua perasaanku.

Pagi ini cukup cerah dengan perkiraan hujan ringan di siang hari. Sekarang terdengar suara sendok dan piring yang berbenturan secara teratur. Ada tiga orang yang sedang duduk di kursi meja makan bersamaku, mereka makan tanpa bersuara pada awalnya, hingga suaraku memecah keheningan itu.

“Aku berangkat”

Aku berdiri dan memakai  tasku. Hal itu menarik perhatian tiga orang yang sedang makan bersamaku yaitu ayah, ibu dan Shriel  adikku. Mereka semua mengangguk sebagaimana biasanya, melihat itu aku pun meninggalkan ruang makan secara perlahan.

 

Setelah aku keluar dari komplek perumahan aku senang dan bersyukur masih bisa menghirup kesegaran udara ini dan hal itu membuatku semangat untuk masuk sekolah.

 

Aku hidup. Sekali lagi kukatakan bahwa aku masih bernapas dan tentu saja memijak bumi ini. Tapi mungkin keberadaanku saja yang tidak penting sehingga mudah dilupakan orang lain.

Sebenarnya aku tak ingin perhatian dari semua orang, yang aku inginkan adalah seseorang yang mampu membuatku meyakini bahwa dunia ini baik.

“Sena, buku-buku itu udah kamu simpen di ruang guru kan?” Akhirnya dapat kudengar seseorang memanggil namaku, meskipun kalimat lanjutannya seperti itu.

“Ya, udah” jawabku, untung saja aku laki-laki yang senang membantu orang lain jadi setidaknya kehadiranku masih bisa dianggap, meskipun hampir semuanya memanfaatkanku. Tapi inilah sistem rumit yang disebut pergaulan.

 

Setelah pulang sekolah aku tak langsung pulang, biasanya aku berjalan kaki menuju taman kota, tempat makan atau apapun sendirian guna menunggu malam tiba.

 

***

 

“Shriel, pulang sekolah nanti tolong kasih obat ini ke rumah Nenek. Nenek di sana bakal nyiapin bubur kacang hijau yang enak itu” ibuku memulai pembicaraan sebelum makan sambil memberikan sebungkus obat-obatan kepada Shriel.

Shriel yang mendengarnya tidak setuju.

“Sekarang aku ada pengayaan kalo pulang sekolah. Sama kak Sena aja” lemparnya padaku yang sedang mengunyah makanan dengan tenang. Aku langsung mengangguk lalu ibu memberikan bungkusan obat itu padaku.

 

Aku sudah berada di depan rumah nenek. Aku menekan bel dan menunggu jawaban. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan kini nenek ada di hadapanku dengan pandangan sinis yang biasa ia tujukan padaku.

“Loh, kenapa bukan Shriel?” Tanya nenek. Aku tersenyum singkat.

“Shriel lagi ada pelajaran tambahan di sekolahnya” jawabku sambil mengeluarkan bungkusan obat di dalam tasnya dan memberikannya pada nenenknya.

“Ya sudah kalo gitu, terima kasih. Oh ya tunggu,” setelah mengatakan itu nenek mengambil bungkusan tersebut. Dan sesuai perintahnya aku diam beberapa saat di sini.

Pintu itu terbuka kembali, kini nenek membawa sebuah wadah plastik yang dapat kutebak itu adalah bubur kacang lezat buatannya.

“Ini untuk Shriel” katanya sambil memberkannya padaku. Aku mengangguk dan menerimanya dengan tersenyum. Tapi senyumanku itu diabaikannya. Nenek langsung masuk  ke dalam rumah lagi saat itu juga.

 

Aku berusaha berjalan lebih cepat dari biasanya dan mempunyai tujuan pasti. Rumahku. Bahkan agar segera sampai kuputuskan untuk menggunakan angkutan umum.

 

Hari ini masih siang, pintu rumahku masih dikunci mungkin karena Shriel akan pulang lebih sore dari biasanya dan tentu saja kedua orangtuaku belum pulang.

Kusimpan bubur kacang hijau itu di meja yang ada di antara dua kursi dekat pintu. Itu sangat lezat, tapi nenek akan tidak menyukainya jika aku memakannya, jadi aku segera menggelengkan kepalaku dan berjalan lagi meninggalkan tempat ini.

 

Musik yang terputar melalui headphone kesayanganku mengusir keheningan yang ada. Tentu saja jika aku tidak mendengarkan musik, aku akan tenggelam dalam kesunyian yang ada di belakang rumahku ini.

Ada beberapa barang bekas di atas rumput-rumput liar yang tumbuh subur di sini. Aku duduk di sebuah papan kayu usang. Aku bersandar di tembok yang sudah berwarna kehijauan karena mulai terselimuti lumut.

Dapat kurasakan Angin cukup kencang menerpa diriku. Dari hawanya aku langsung mengetahui bahwa itu angin senja hari. Aku pun mebuka matanya perlahan, benar saja warna langit sudah tidak biru lagi.

Aku melihat jam tanganku lalu melepaskan headphone ini dan menatap ke arah langit cukup lama. Dan kali ini angin yang menusuk kulit aku rasakan di tengah kegelapan karena matahari sudah terbenam beberapa menit lalu.

 

Aku masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang sedikit menggigil. TV menyala di ruang keluarga, aku bisa melihat ibu sedang menonton acara talk show kesukaannya, syukurlah ibu sudah pulang.

 

“Sena?” Ibu langsung membalikan badannya dan melihatku yang masih terdiam karena suara panggilannya barusan.

“Cepat mandi, kamu terlihat kotor” Ibu tersenyum. Senyuman yang membuat hatiku terluka. Aku mengangguk dan membalas senyuman itu dengan senyuman yang terasa lebih menyakitkan.

 

Jika saja ibu hidup di tempat di mana tidak ada aku, pastilah ibu tidak akan terbebani karena kepergian ayah asliku, ibu pasti bahagia saat menikah lagi dan membangun keluarga baru.

Untuk membuat tempat yang dihuniku ini damai aku sudah berjanji agar tidak menimbulkan permasalahan, karena itulah kubuat dunia kecil di mana aku merasa benar-benar hidup, yakni dalam kesendirian.

.

.

.

Selesai


 

Terima kasih banyak bagi yang telah membaca cerpen ini ^^

One Reply to “Tempat di Mana Tidak Ada Aku”

Leave a Reply