Sosok dalam Hujan – Bagian II

Sosok dalam Hujan – Bagian II

 Malamnya aku tak bisa tidur, tadi aku dimarahi habis-habisan oleh guru, bukan karena telat datang tapi Karena Pak Kumis melihatku melamun terus saat pelajaran. Aku tutup buku tugasku yang belum selesai, nanti saja di sekolah. Kucoba tidur malam itu.

Tengah malamnya aku terbangun karena sesuatu. Di luar ternyata hujan deras, padahal senja tadi langit masih terlihat cerah. Suara yang membangunkanku berasal dari luar, kucoba membuka tirai dan melongok keluar dari jendela. Entah apa yang kulihat, sesuatu yang membuat tubuhku merinding. Di seberang pagar, di dekat pohon mangga belakang rumahku, kulihat sesosok siluet yang sedang memukulkan sesuatu seperti tongkat yang panjangnya kira-kira satu meter ke batang pohon itu dengan keras terus-menerus. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, ku hanya diam melihat selama sepuluh menit dalam kebisingan derasnya tetes hujan. Tiba-tiba sosok itu berhenti, menaruh tongkat itu di tanah. Matanya langsung menatapku. Jantungku terasa hampir berhenti, tanganku bergetar memegang tirai jendela, kakikku mundur selangkah dalam kekakuan. Sosok itu mendekat melangkah perlahan, langkahnya berat ditambah beceknya tanah karena hujan, sosok itu memegang besi pagar rumahku, kulihat tangannya mencengkeram besi itu dengan kuat, saking kuatnya kuyakin tangannya berdarah. Sosok itu terus menatapku dalam derasnya hujan, dinginnya malam itu tak terasa karena tatapan sosok itu menusuk mataku.

Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamarku, menghapus lamunan karena kaku oleh tatapan sosok di depanku. Ayah masuk ke kamarku. Dia langsung melangkah, berdiri di depanku, seolah ingin melihat apa yang sedang aku lihat dari tadi.

“ jangan kau ganggu anakku, Han. Lupakanlah kesedihan tentang anakmu, maka kau akan tenang disana, anak ini tidak berdosa.” Apa ini? Ayah berbicara kepada sosok itu,, bahkan ayah terlihat mengenal sosok yang dari tadi menatapku.

Sosok itu melihat ayahku dengan tatapan yang lebih tajam, tiba-tiba matanya menjadi kuning menyala, aku mundur beberapa langkah karena kaget. Ayahku tidak terkejut sama sekali, dia tampaknya berbisik, aku tak tahu dia berbisik apa. Seketika sosok itu mundur dengan cara yang menakutkan, tubuhnya seperti lentur tak bertulang, semakin menjauh dan menghilang ditelan samarnya malam berhujan itu.

“Tidurlah nak.” Ayah menyuruhku, meski dalam kepalaku timbul banyak pertanyaan yang ingin ketanyakan kepada ayah, tapi rasa kantuk ini tak bisa kutahan.

Paginya saat hujan deras telah berhenti, kulihat ayah sedang memungut sesuatu di taman belakang dekat pohon mangga. Kulihat tangannya memegang secarik kertas basah dan kotor oleh tanah, dia membacanya. Kucoba membaca ekspresinya entah wajahnya hanya datar memandang isi kertas itu. Ku alihkan pandanganku, teringat akan sekolah, ku bergegas keluar dari kamarku, mandi dan sarapan. Saat sebelum ku berangkat sekolah, kulihat kertas itu ada di bagian bawah meja ruang tamu, mungkin ayah menaruhnya sebelum berangkat kerja tadi. Kuambil dan kucoba membaca isi surat basah dan kotor itu. Kalimat itu tersusun dari huruf huruf yang menurutku sangat acak acakan dan kacau tapi semua huruf itu masih bisa ku kenali, tinta huruf itu luntur sebagian oleh air hujan, tertulis.

“jagalah anakmu atau kau akan mengalami apa yang anakku alami *sechan, teman lama yang kau ambil nyawanya.

Teman lama yang kau ambil nyawanya? Siapa? Aneh sekali isi surat ini.
“Ayahmu sangat ceroboh sekali.” Deg! Suara berat itu terdengar di kupingku, suara itu serak dan nyaris tidak menyerupai suara manusia normal. Kutolehkan leherku kebelakang dengan amat perlahan, tubuhku gemetar hebat.

Jantungku berhenti, mata itu kuning menyala dengan pupil menipis kecil seperti hewan liar, kantung matanya terlihat merah berdarah. Sosok itu mendekatikku dengan cepat, kedua tangannya terangkat ke depan ke arahku, kuku-kukunya tajam  berdarah, mendekat mencekikku.

Tamat

Leave a Reply