Sosok dalam Hujan – Bagian I

Sosok dalam Hujan – Bagian I

Bagian I

Di tengah hujan kulihat ia menatap tajam ke arahku, matanya coklat kehitaman, sedikit samar oleh air hujan, wajahnya tirus berkeriput, tubuhnya ditutupi jubah hitam lusuh yang kebas oleh hujan, tubuhnya sedikit gemetar.

Kucoba hiraukan tatapannya dan segera pergi dari persimpangan jalan ini.

Sudah ketiga kalinya aku bertemu sosok misterius itu, selalu di tempat yang sama dan selalu saat hujan sosok itu muncul. Situasi ini mengganguku, persimpangan yang selalu kulewati saat berjalan pulang dari sekolah, aku tak mengenali sosok itu, usianya tak terlalu muda mungkin sekitar 40 tahunan. Sosok ini membuatku penasaran sekaligus membuatku khawatir, apakah mungkin dia orang jahat yang ingin menculikku, tapi itu tidak mungkin sekali, mana mungkin penculik berdiam di tengah hujan mengamati buruannya dan tidak berbuat apa-apa. Mungkin temanku tahu sosok misterius itu. Maka siang itu di kantin kutanyakan kepada Dan, teman dekatku.

“Kau sudah ketiga kalinya bertemu orang aneh itu Raf? lalu mengapa kau baru cerita sekarang? sudah lah jangan dipikirkan, mungkin dia fans beratmu Raf ahahahaha…..” Dasar si Dan ini.

“Mungkin jika kau bertemu lagi dengan orang aneh itu, coba kau dekati dia dan tanya saja langsung, tapi mungkin kau takut kan?”

“Kau tidak tahu, tatapan matanya itu yang membuatku takut Dan, bukan kehadirannya, kau akan merasakannya sendiri saat bertemu dia.”

“Aku tak berniat bertemu dia, lagian dia kan fansmu, untuk apa dia melihatku Raf.”

Obrolanku dengan Dan terhenti karena bel masuk telah berbunyi nyaring. Sial! Ulangan harian Biologi menanti mereka, hari yang buruk.

Bel pulang berbunyi, bergegas aku masukkan buku-buku ke dalam tas dan bergegas pulang. Hari ini cuacanya berawan, jadi saat nanti aku berjalan melewati persimpangan, mungkin tidak akan bertemu dengan sosok itu. Teringat perkataan Dan, jika sosok aneh itu muncul lagi, sarannya maka tanyakan saja langsung, ide gila temanku tak berlaku hari ini. Musim hujan ini membuatku bersiaga dalam hal basah, menjaga buku-buku sekolahku dan tubuhku agar tetap kering, maka setiap hari aku bawa payung ibuku meskipun malah menambah berat tas yang penuh oleh barang-barang sekolah. Tapi entah mengapa sore itu cuacanya tidak hujan, tidak sedikitpun mendung atau menunjukkan tanda¬-tanda akan hujan, cuaca ini menyelamatkanku. Saat kulewati persimpangan itu, benar saja sosok aneh itu tidak muncul, aku bergegas belok ke kiri menuju jalan ke rumah.

Pagi itu aku telat masuk kelas karena ada sedikit gangguan di lingkungan rumah. Aku segera duduk di bangku paling belakang di sudut kiri kelas, untung saja gurunya belum datang.

“Dari mana saja kau? Untung Pak Kumis belum datang, bisa-bisa kena omelan mautnya kau, Raf.” Si Dan ini meledekku, dia tak tahu apa-apa sih. Aku malas menjelaskannya, namun memang sepertinya ada sesuatu yang mengganjal yang aku rasakan sejak saat pagi.

Kudengar, pagi tadi katanya ada yang meninggal atau lebih pantas disebut tewas, sesosok pria ditemukan tewas tergeletak dengan kondisi pakaiannya kebas oleh air, yang aku dengar dari para tetangga, mimik wajahnya membuat semua orang ngeri, matanya melotot, mulutnya menganga, kaki dan tangannya kaku layaknya kayu, itu yang kudengar. Ditemukan di persimpangan jalan Hanko tepat di pinggir jalan sebelah kiri. Itu yang membuatku terpikir terus, sebab tempat itu adalah tempat dimana aku bertemu dengan sosok aneh itu.

berlanjut…

Leave a Reply