Sesal

Sesal

“DOKTER Saras!” Suster Rima memanggilku dari ujung koridor, menghentikan langkahku secara otomatis. Ia berlari sekencang yang ia mampu, hingga tiba di hadapanku dalam keadaan terengah-engah.

“Ada apa?” tanyaku singkat dengan wajah yang mungkit kelewat datar. Maksudku hanya tak ingin membuang-buang tenaga hanya untuk menunjukkan ekspresi berlebihan.

“I-itu, Dok, ada pasien gawat darurat di IGD! Pasien butuh operasi sekarang juga, Dok,” jawab Suster Rima dengan napas patah-patah.

“Bukannya hari ini jadwal Dokter Husein yang jaga IGD?”

“Dokter Husein juga sedang operasi pasien, Dok, malah Dokter Fajar juga sedang operasi. Pasiennya datang rombongan, Dok. Ada satu pasien lagi yang benar-benar butuh operasi. Saya udah cek jadwal Dokter Saras, lagi kosong ‘kan, Dok? Makanya saya minta Dokter Saras yang operasi,” jelas Suster Rima panjang lebar.

“Pasien terluka karena apa?”

“Kecelakaan mobil, Dok. Dua orang dalam mobil sedang operasi, dua orang lagi luka-luka, satu orang lagi korban tabrak mobilnya, Dok.”

“Hm, oke, saya ke IGD sekarang,” ucapku sembari memakai jas dokter yang sedari tadi tersampir di lenganku.

“Bareng sama saya, Dok. Oh iya, maaf merepotkan ya, Dok. Coba aja Suster Mila nggan ngomong jorok, ngga bakal ada deh pasien rombongan kayak gini,” ujar Suster Rima yang kini berjalan si sampingku.

Aku tersenyum kecil. Orang-orang di rumah sakit masih saja percaya mitos itu. Ngomong jorok adalah sebutan bagi ucapan yang dianggap bisa membawa bencana berupa datangnya rombongan pasien. Ngomong jorok bisa dicontohkan seperti ‘IGD sepi hari ini’ atau berupa pertanyaan seperti ‘Kok enggak ada pasien yang datang?’. Konyol bukan? Aku tak habis pikir bagaimana kumpulan orang berpendidikan tinggi di rumah sakit bisa memercayai hal tak masuk akal seperti itu.

“Ini pasiennya, Dok.” Suster Rima membuyarkan lamunanku.

Kami tiba di sisi ranjang. Terbaring gadis berlumuran darah di atasnya, menodai sprei putih yang ditidurinya. Ia masih belia, mungkin berumur lima belas. Kulitnya pucat pasi, seperti tak ada darah yang mengaliri tubuhnya. Mungkin ia kehabisan darah. Bergegas aku memanggil tim operasi agar operasi bisa segera dimulai.

Kucuci tanganku usai berganti baju. Kulantunkan sebait doa, lalu aku memasuki ruangan operasi.

Bismillah, operasi dimulai.”

 

 [-]

 

“Pasien sudah sadar?” Suster Rima yang tengah tertunduk langsung mendongak ketika suaraku sampai di telinganya.

“Sudah, Dok,” jawab Suster Rima yang entah mengapa terkesan lesu.

“Di mana orangtuanya? Ada yang perlu saya bicarakan.”

“Di depan kamar pasien, Dok.” Lagi-lagi Suster Rima begitu lesu.

Aku menyernyit heran. Situasi yang barusan dilontarkan Suster Rima terdengar janggal di telingaku. Bila pasien sudah sadar, sudah seharusnya orangtua pasien berada dalam kamar sembari memeluk anaknya penuh haru. Namun, pasien kali ini justru berbeda.

“Pasien tidak mau bertemu orangtuanya, Dok.”

Kernyitan dahiku semakin dalam.

“Antarkan saya ke kamar pasien.”

Suster Rima mengantarku menuju kamar pasien yang kini kutahu namanya Lania. Sesuai dugaanku, umurnya lima belas. Seusia denganku tiga belas tahun yang lalu.

Tibalah kami di kamar 332. Suster Rima benar, orangtua Lania berada di depan kamar, terduduk pasrah di lantai. Mata sang ibu begitu basah, air mata tak henti-hentinya mengalir. Ayahnya tak jauh berbeda. Meski tangisnya tak sederas sang ibu, masih bisa kutangkap raut pilu dari wajahnya.

“Sore, Pak, Bu,” sapaku lembut.

Mereka yang tengah menunduk sembari berpelukan seketika mendongak. Menyadari bahwa aku dokter yang mengoperasi sang pasien, mereka berdiri dan menyapaku.

“A-anak saya enggak apa-apa ‘kan, Dok?” Tanya sang ibu yang matanya masih terus mengeluarkan air mata.

Aku menyunggingkan senyum kecil, berusaha menghibur mereka. “Anak Ibu baik-baik saja.” Terlihat raut wajah lega dari sepasang suami istri itu ketika aku mengatakannya.

“Kalau berkenan, mari ke ruangan saya. Ada yang mau saya bicarakan.”

 

[-]

 

“Nama saya Saras, saya dokter yang mengoperasi anak Bapak dan Ibu,” ucap memulai percakapan.

Pasutri yang kini duduk di hadapanku hanya mengangguk kecil, dengan mata yang masih penasaran.

“Mm, mungkin ini sedikit mengenai privasi keluarga Bapak dan Ibu. Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa Lania tidak mau bertemu Bapak dan Ibu?” tanyaku hati-hati.

Hening. Mulut mereka bungkam. Entah apa itu, kutahu pasti bukan sesuatu yang baik. Aku pun menunduk, sepertinya aku takkan mendapat jawaban.

“Kami …”

Seketika aku mendongak. Menatap sang ibu dengan penuh harap agar melanjutkan ucapannya.

“Ka-kami … sering memperlakukan Lania dengan buruk,” ucap sang ibu diiringi setetes air mata yang mengalir.

“Buruk … seperti apa?” tanyaku hati-hati.

“Saya … saya sering memukuli Lania kalau dia tidak mau melakukan apa yang saya suruh,” jawab sang ayah dengan raut wajah pilu.

Sang ibu terisak, tetapi akhirnya menjawab, “Saya sering memarahi Lania hanya karena hal sepele, saya juga tak pernah memberi Lania uang jajan ke sekolah.”

Aku tersentak. Kisah ini … seperti tak asing.

 

[-]

 

Pagi telah menyambut. Aku yang baru tidur satu setengah jam yang lalu seperti dipaksa bangun oleh kicauan burung. Suasana rumah sakit sama seperti biasa. Di pagi hari seperti ini aku selalu merasa damai. Walau tempat ini dipenuhi oleh orang-orang yang tak sehat fisik—dan mungkin juga mentalnya, tetapi di tiap-tiap ruangan ada orang-orang yang mendukung dengan sepenuh hati.

Seketika aku teringat pasien yang bernama Lania. Gadis itu berbeda dengan pasien kebanyakan. Ah, aku ingat harus mengunjunginya pagi ini.

Aku menyusuri lorong-lorong rumah sakit hingga tiba di depan kamar Lania. Hatiku amat tercubit melihat kedua orangtua Lania masih berada di luar, bedanya mereka kini duduk di dua kursi yang disediakan rumah sakit. Aku memberi mereka senyuman, lalu masuk untuk memeriksa anaknya.

“Selamat pagi, Lania,” sapaku.

Lania hanya mengangkat wajah sedikit untuk tahu siapa yang datang. Omong-omong, ia sedang membaca buku.

“Saya periksa dulu sebentar, ya.”

Aku mulai memeriknya tanda vitalnya. Aman, Lania baik-baik saja. Aku sangat bersyukur.

“Lania suka baca buku?” tanyaku yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Lania.

Aku seperti mendapat ide. Mungkin Lania harus membacanya agar ia tak menyesal sepertiku. Semoga saja.

“Mau saya ambilkan buku lain?”

Lania hanya terdiam, tetapi aku menangkap rasa penasaran di matanya. Aku tersenyum kecil.

“Sebentar ya, saya ambil dulu.”

Aku segera keluar kamar. Aku berlari secepat yang kubisa agar segera sampai ke ruanganku. Tingkahku tadi memang cukup mengundang perhatian, tetapi aku tak peduli. Yang kupikirkan hanya satu, di mana aku menyimpan buku itu.

Setibanya aku di ruangan, segeralah aku mengobrak-abrik semauku. Semua laci sudah terbuka, setiap kolong sudah kucek, tetapi buku itu tak kutemukan juga. Padahal aku ingat jelas telah membawanya ke sini. Aku frustrasi. Aku berpikir keras di mana aku menyimpannya. Hingga sekelebat ingatan menghampiri. Dengan penuh harap aku mengangkat bantal yang bekas kutiduri subuh tadi. Ada.

Aku kembali ke kamar Lania, lalu masuk setelah memberi kedua orangtuanya senyuman lagi.

Lania menatapku heran, melihat keadaanku yang terengah-engah. Aku tersenyum menghampirinya. Aku menunjukkan buku di tanganku kepadanya.

“Berapa lama kamu bisa selesai membaca buku ini?”

“Satu hari, kalau ceritanya menarik,” jawab Lania tanpa ragu.

Aku tersenyum miring. “Baik, saya kasih kamu waktu tiga hari. Bukan karena ceritanya  tidak menarik, tetapi karena saya tahu takkan mudah untuk membaca buku ini.”

Lania menerima buku itu. Ia masih keheranan, mengira aku sinting mau membiarkan orang lain membaca buku harianku.

“Tiga hari lagi saya akan kembali. Saya harap kamu sudah selesai membaca.”

 

[-]

 

Tiga hari telah kulalui. Selama itu aku terus mengunjungi pasien lain, tidak dengan pasien di kamar 332, Lania. Aku teringat gadis itu ketika mengetahui bahwa tiga hari telah berlalu. Aku pun cepat-cepat bersiap untuk mengunjungi Lania.

“Selamat pagi, Lania,” sapaku seperti biasa.

Keadaan Lania jauh dari kata baik. Matanya sembap yang dihiasi kantung mata. Wajahnya pun pucat. Di tangannya ada buku harianku. Aku jadi khawatir padanya.

“Lania sudah selesai baca?”

Lania hanya menggeleng kecil. Aku tersenyum. Sudah kuduga ia takkan menyelesaikannya dengan cepat. Bukan karena kisahnya tak menarik, tetapi karena kisahnya terlalu pilu. Lebih tepatnya lagi, kisahku.

Aku duduk di kursi yang berada tepat di sebelah ranjang.

“Ya sudah, sekarang kamu berhenti bacanya. Mau saya ceritakan kisah lengkapnya?”

Lania mengangguk lemah. Sepertinya kunjungan kali ini akan lebih lama dari biasanya.

 

[-]

 

Empat belas tahun yang lalu ….

Umurku empat belas. Usia di mana para remaja tengah mengalami jatuh cinta yang berbunga-bunga. Sayangnya, aku tak seperti remaja kebanyakan. Satu-satunya pria yang paling sering kutemui adalah ayahku.

Ketika remaja seusiaku memiliki ibu yang telah berumur tiga puluh sampai empat puluh tahun, lagi-lagi aku berbeda. Ibuku masih cantik di usianya yang baru dua puluh delapan tahun, dua kali lipat dari usiaku yang sekarang.

Dari dua kisah singkat tadi, mungkin sudah bisa ditebak kalau kisah hidupku jauh dari kata bahagia. Omong-omong soal bahagia, mungkin definisi bahagiaku dengan orang lain cukup berbeda. Jika orang lain bahagia karena mendapat barang-barang mewah, maka aku akan bahagia jika ayah dan ibuku tak ada di rumah.

Orang bilang aku ini anak haram. Ibuku yang duduk di kelas 3 SMP dahulu terpaksa meninggalkan segala sesuatu yang berhubungan dengan sekolah. Alasannya hanya satu, perutnya semakin membuncit karena terisi olehku.

Ayahku yang dua tahun lebih tua dari ibu pun bernasib sama. Ayah yang terkenal sebagai murid nakal tak membuat orang-orang terkejut karena telah menghamili seorang gadis SMP. Malah seisi warga sekolahnya dulu bersorak bahagia karena ayah ditendang dari sekolah.

Mereka menikah tiga bulan setelahnya. Nenek dan kakekku harus menahan malu sebisa mungkin demi anak mereka. Namun kebaikan kakek dan nenekku hanya sebatas itu. Mereka membelikan ayah dan ibuku rumah yang kelewat sederhana di kota kecil. Dari sana ayah dan ibuku tahu bahwa mereka takkan bisa menganggap diri mereka anak dari kakek dan nenekku lagi.

Aku pun lahir. Ibuku yang masih polos begitu menyayangiku. Berbeda dengan ayahku yang selalu pergi entah kemana, lalu pulang entah berapa hari kemudian dalam keadaan mabuk berat. Namun, kebaikan ibuku berakhir ketika aku berusia sepuluh tahun. Ibu mendapat pekerjaan entah apa. Setiap hari pulang malam dengan membawa barang belanjaan dari merk terkenal.

Saat itu aku hanya bisa diam, belum mengerti apa yang terjadi. Yang kulakukan hanya memerhatikan, lalu menuliskan segala yang terjadi dalam buku harianku. Omong-omong, entah di lembar ke berapa aku menuliskan ingin menjadi seorang dokter. Saat itu mungkin aku sedang gila karena berani-beraninya aku bermimpi.

Hingga kini aku telah berusia empat belas tahun, tepatnya dua hari yang lalu dan tak ada yang ingat selain diriku sendiri.

Aku yang telah menginjak usia remaja mulai tahu apa itu dunia. Kini aku tahu bahwa selama ini ibuku menjadi simpanan om-om. Aku tak tahu bahwa ibuku yang dahulu baik dan lembut kini menjadi sehina itu. Ayahku menjadi preman di pasar. Kerjanya hanya memalak pedagang-pedagang bahkan sesekali mencopet pembeli.

Aku malu, amat malu memiliki dua orangtua yang begitu rendah derajatnya. Aku yang memang tak mau menerima sepeser pun uang dari mereka memilih untuk bekerja di restoran. Ketika remaja lain sibuk mengeluhkan tugas dari sekolah, aku sibuk mengeluh ketika noda di piring tak kunjung hilang. Memang sudah seperti biasa, aku berbeda dari kebanyakan orang.

Aku pulang ke rumah pukul tujuh malam. Setibanya di rumah aku mendengar suara bising. Benar saja, ketika aku masuk, terpampang jelas ayah dan ibuku yang tengah bertengkar hebat. Kulihat banyak pecahan beling di sekitar mereka.

Aku berjalan mengendap-endap, berusaha agar mereka tak menyadari kehadiranku. Namun, aku gagal.

“Saras!” Ayah memanggilku dengan amarah.

Aku seketika menghentikan langkahku. Rasanya aku ingin berlari sekencang mungkin ke mana pun itu. Namun tak bisa. Ayah menarik tanganku dengan keras lalu menghempaskanku ke lantai.

“Dari mana aja kamu?! Kerjanya main mulu, pulang malem! Mau jadi apa? Mau jadi simpenan om-om kayak ibu kamu, hah?!” Ayah membentakku tepat di depan wajahku.

Plak!

Ibu menampar ayah hingga ayah bergeser beberapa langkah.

“Dasar cewe sialan!” Ayah berteriak marah.

Singa dalam diri ayah mulai muncul. Ia mengamuk. Ayah mendorong ibu ke lantai lalu menjambak rambutnya. Aku meringis melihatnya. Air mataku telah mengalir sejak tadi.

Selesai meluapkan amarahnya ada ibu, kini giliranku. Ayah menarikku lalu menghempaskanku ke kursi kayu. Ia menitahku untuk berbalik badan. Ayah mengambil sisa tambang di sudut ruangan. Kemudian tanpa ragu ia mencambukku tanpa ampun.

“Ayah, berhenti! Sakit!”

Ayah seolah tuli. Ia terus-terusan mencambukku hingga rasanya tubuhku ingin remuk. Pedihnya ibu tak membela. Ia malah sibuk menangis sembari memukul-mukul dirinya sendiri.

Sampailah sudah keluargaku pada titik kehancuran.

 

[-]

 

Pukul dua dini hari. Aku belum mampu untuk memejamkan mata. Masih teringat jelas ketika ayah mencambukku tadi malam. Lukanya pun kini berdenyutan di punggungku. Aku tak sanggup lagi. Aku ingin pergi dari temat terkutuk ini sekarang. Namun aku tak tahu lagi harus ke mana.

Rumah nenekku bukan pilihan. Aku bahkan tak tahu di mana nenekku berada, seperti apa rupanya, bahkan namanya pun aku tak tahu. Aku hanya tahu sedikit tentang nenek dari apa yang ibu ceritakan dulu.

Brak brak brak

Kudengar pintu depan di pukul dengan kasar. Siapa pula orang yang datang jam segini? Aku mulai berpikir macam-macam. Dengan sisa keberanianku, aku pergi ke ruang tengah. Aku berjalan hati-hati menuju jendela. Kusingkap sedikit gorden yang menutupi, untuk tahu siapa yang datang. Ternyata ayah.

Cepat-cepat aku mencari kunci rumah, lalu membukakan pintu walau dengan berat hati dan sedikit rasa dendam. Namun, ternyata aku melakukan kesalahan besar. Ayah tiba-tiba menerjangku hingga aku ambruk ke kursi kayu. Ia yang dalam keadaan mabuk berat takkan mungkin sadar apa yang tengah ia lakukan.

“A-ayah! Ayah mau apa? Lepasin!” Aku meronta semampuku.

Cengkraman ayah menguat. Ia meracau entah apa itu aku tak mengerti. Ayah semakin merapatkan tubuhnya padaku. Aku takut, sangat takut. Tak kusangka ayah seliar ini. Ayah ibarat monster yang kini mendapat mangsanya.

“Ayah, lepas!”

Bukannya melepaskanku, tangan ayah malah bergerak liar. Ia mulai mengelus pahaku dengan bermacam pola. Tuhan, aku takut.

Aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya bila aku tak melepaskan diri sekarang juga. Masa depanku akan hancur. Kukerahkan semua tenagaku untuk meronta. Kaki kananku yang terbebas menendang tubuh ayah sekuat mungkin. Ayah pun terjatuh.

Aku pun segera bangkit dan langsung keluar rumah. Aku berlari sekencang mungkin tanpa kenal arah. Pikiranku sungguh pendek. Mau ke mana aku sekarang? Apakah aku akan berakhir dengan penculik tak berhati? Atau aku akan mati kelaparan? Entahlah. Mungkin dua opsi tadi lebih baik daripada harus dilecehkan oleh ayah kandungku sendiri.

Aku terus berjalan hingga malam berlalu.

 

[-]

 

“Setelah Dokter  pergi, apa lagi yang terjadi? Bagaimana dengan kedua orangtua Dokter?” Lania menataku penuh rasa penasaran.

“Saya tidak tahu, orangtua saya tak mencari saya.”

“Lalu, bagaimana Dokter bisa jadi seperti sekarang?”

Aku tersenyum hangat. “Pagi harinya, saya bertemu seorang malaikat. Ada bapak-bapak yang menghampiri saya. Saat itu saya sedang berjongkok di depan toko. Ternyata bapak-bapak itu pemilik tokonya. Beliau sangat baik, memberi saya makan, membiarkan saya menginap, dan lain-lain. Sampai akhirnya beliau yang memang tak punya anak ingin mengadopsi saya.

“Saya langsung setuju tanpa berpikir apa-apa lagi. Orang sebaik itu tidak mungkin saya sia-siakan. Beliau kini saya panggil Papa. Beliau yang menyekolahkan saya, merawat saya, mengajari saya hingga saya bisa menjadi dokter di usia semuda ini. Tak lupa istrinya yang kini kuanggil Mama, merawat saya dengan penuh kasih sayang yang sudah lama sekali tidak saya rasakan. Saya amat bahagia.”

Lania terus menyimak ceritaku. Matanya jarang berkedip, seolah enggan ketinggalan satu cerita pun.

“Namun, saya punya penyesalan,” ucapku pelan.

“Penyesalan apa? Bukannya Dokter sudah bahagia sekarang?” Tanya Lania heran.

Aku mengembuskan napas. “Saya menyesal tidak mencari orangtua saya. Walau bagaimana pun, mereka tetap yang berperan besar dalam lahirnya saya ke dunia. Tanpa mereka, saya tak akan ada di sini. Dan mungkin tanpa mereka, saya tak akan bertemu kamu, Lania.”

Lania terdiam. Air matanya kembali menetes. Mungkin ia sudah sadar di mana letak kesalahannya.

“Saya mau kamu temui orangtua kamu sekarang, Lania. Mereka masih punya hati telah menyesal dan mau memeperbaiki semua kesalahan yang telah mereka lakukan kepadamu. Saya tidak mau kamu menyesal seperti saya, Lania,” ujarku lembut.

Lania semakin terisak. Bahkan, raungan kecil telah lolos tadi bibir tipisnya. Ia segera bangkit hingga infusannya terlepas. Darah bercucuran dari tangannya. Aku sedikit khawatir, tetapi aku tahu aku tak bisa mencegahnya.

Lania terburu-buru membuka kenop pintu, lalu ambruk dalam pelukan ibunya. Aku mengikuti dari belakang, menjadi saksi nyata bersatunya kembali keluarga yang pernah retak.

Aku bahagia, aku bahagia bisa menghindarkan Lania dari sebuah penyesalan. Aku rasa, kini giliranku untuk membayar penyesalanku. Mungkin kedua orangtuaku masih tingggal di tempat yang sama.

 

[-]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply