Sebuah Tanya, Untuk Indonesia

Sebuah Tanya, Untuk Indonesia

Aku selalu saja, tak pernah berhenti bertanya.

Kepada siapa? Ini untuk Indonesia.

Ada apa tentang Reklamasi Teluk Jakarta?

Ada apa dengan Meikarta?

Bagaimana dengan Tambang di Irian Jaya?

Lalu, mengapa selalu ada imigran gelap China? Apa itu rencana?

Aku memang hanya sekadar penonton layar kaca dan media-media.

Tapi, apa aku terlalu bodoh pada media?

Atau terlalu bodoh oleh para penguasa?

 

Aku sempat melihat layar kaca, Tak ada yang bisa mendekat ke Rekalamasi Teluk Jakarta. Bahkan nelayan?

Aku sempat membaca media-media, Katanya, belum ada izin untuk Meikarta.

Bapak penguasa. Tolonglah berbicara tentang permasalahan.

Kami suka senyum sederhana bapak,

Anak-anak bergembira mendapat sepeda dari bapak.

Tapi, orang – orang dewasa kehausan bertanya tentang negara.

 

Bukankah air adalah milik negara?

Kenaoa rakyat harus membelinya?

Teruntuk Indonesia, maafkan cinta rakyatmu.

Yang mengusik para penguasamu.

 

-Bandung, satu hari setelah sumpah pemuda. -2017

One Reply to “Sebuah Tanya, Untuk Indonesia”

Leave a Reply