Irgi memasuki rumahnya dengan diam-diam. Ia baru saja pulang malam karena bermain dulu di rumah temannya. Namanya juga ABG, pasti banyak godaan bermain. Alhasil ia harus berperilaku layaknya maling untuk memasuki rumahnya sendiri. Matanya melirik kesana kemari agar tidak dilihat oleh siapa pun. Gawat sekali kalau dia ditemukan oleh ibunya. Mungkin dia tidak akan tidur sampai pagi karena diberi siraman rohani oleh ibunya. Namun kini ibunya telah berada di hadapannya dengan tatapan tajam. Jantungnya kini berdegup kencang, ini bukan ciri jatuh cinta, ini ciri kegelapan baginya.

 

Dear… Kemana aja sih kamu? Kenapa baru pulang?” Ibunya bertanya sambil tersenyum dengan segelas susu ditangannya.

 

Irgi menghembuskan nafas lega karena dugaannya sebesar nol persen terjadi. Ia lega namun ia bisa tahu dari mimik muka ibunya, walau ibunya tersenyum namun terlihat khawatir. Irgi bersyukur sekali, walaupun ibunya bukan ibu kandungnya namun kasih sayang ibu tirinya itu sangat tiada tara untuknya. Irgi menghampiri ibunya lalu memeluk ibunya.

 

“Kukira mom bakal memarahiku kkk~ Thanks mom…” Ujar Irgi sambil tersenyum dipelukan ibu

 

“Sudah… Hurry up dear! pergi ke kamarmu dan ganti pakaianmu! Nanti mom susul ke kamar. Nih, mom sudah buatkan kamu susu.” Ujarnya sambil mendorong Irgi pelan untuk ke kamarnya.

 

Irgi pun berjalan ke kamarnya dengan santai lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia memutar keran air hangat untuk tubuhnya. Bayangkan saja betapa dinginnya jika mandi memakai air dingin tepat tengah malam. Irgi pun dengan cepat menyelesaikannya dan tak lupa untuk menggosok gigi. Kini ibunya diluar sudah mengetuk beberapa kali pintu kamar mandi.

 

Wait mom, aku sedang gosok gigi!” Teriak Irgi di dalam kamar mandi.

 

Lalu, Irgi pun menyelesaikan aktivitas mandinya dan keluar dari kamar mandinya dengan wangi Bunga Mawar dari sabunnya. Irgi pun berjalan ke tempat tidurnya. Ia berniat untuk tidur, namun sang ibu menghentikannya.

 

Dear, waktunya untuk mendengarkan dongeng dulu.” Suruh ibunya.

 

Irgi melirik ke arah ibunya. “Please mom… why? Aku ini sudah gede, masa harus mendengarkan dongeng?” Ujar Irgi menolak keinginan ibunya.

 

Just one…. Please dear, Mom promise ini yang terakhir. Mom gak akan ceritakan dongeng lagi.” Mohon ibunya.

 

Its okay mom. Jika kamu sangat menginginkannya.” Pasrah sang anak pada ibunya.

 

“Baiklah, mom akan bercerita Kisah Serigala dan Anak Manusia.” Ibunya menghela nafas pelan lalu mengusap rambut anaknya dengan lembut. “One day, di hutan hiduplah segerombol serigala, mereka hidup bersama-sama dan mencari makan bersama sama.”

 

Ibunya tersenyum. “But, suatu hari seekor serigala betina menemukan bayi di daerah dekat sungai ketika ia hendak minum. Serigala itu mencari seriga lain dan memberitahukan tentang bayi itu. Diantara para serigala, banyak yang memilih sang bayi itu dimakan saja, daripada mereka kelaparan. Namun, serigala yang menemukan bayi itu ingin mengurus bayi tersebut. Jika akan memakan bayi itu, serigala tersebut akan menghanyutkan bayi tersebut daripada ikut makan bersama teman-temannya. Alhasil, mereka menyetujui untuk merawat bayi itu, walau terpaksa. Beberapa hari, bulan, hingga tahun, sang serigala betina merawat bayi itu hingga besar dan kini bayi itu menginjak usia remaja.”

 

Sang ibu tersenyum melihat anaknya yang mendengarkannya dengan antusias. Ia menghela nafas lalu melanjutkannya. “Bayi yang kini menginjak usia remaja itu mulai melakukan kebiasaan layaknya serigala. Serigala yang lain terus bahagia melihat perkembangan sang anak tersebut. Hingga pada akhirnya, tanpa disangka-sangka, sang serigala betina mulai memakan bayi itu. Tidak lupa juga ia mengajak rekan-rekannya untuk memakan bayi itu hingga tewas.” Ibunya tersenyum . “Tamat.”

 

Irgi mengernyitkan dahinya. “Mom… bukankah versi aslinya, ayah sang bayi tersebut membunuh semua serigala ketika ia menemukan anaknya bersama sekelompok serigala, right?”

 

Ibunya tersenyum menyeringai. “But dear, dalam versi mom, serigala itu memakan sang anak yang baru menginjak usia remaja itu.”

 

Kini ibunya merogoh sakunya. “Why? Because, daging seorang teenager lebih besar dan enak dibanding daging seorang toodler.” Lirih ibunya sambil menatap tajam anaknya tirinya itu.

 

Irgi menatap ibunya dalam-dalam. “Mom… Who are you?” Tanya Irgi dengan segala kekhawatiran melihat ibunya mengeluarkan pisau dari sakunya.

 

***

Hii^^ saya bawain cerpennya hari jumat kenapa? Soalnya biar keren whehe. Dah itu doang