Cerita ini hasil dari kengawuran penulis.

Pastikan waktu mu benar-benar luang untuk membacanya.

 

“Ah masa sih”

Anji mulai teringat apa yang terjadi kepadanya tadi malam.

“Gak, gak mungkin, ini bercanda kan?”. Plak. Anji menampar dirinya sendiri.

“Aw, ini bukan mimpi.” Anji mulai tidak paham dengan kondisinya. Teman di sebelahnya terheran-heran dengan kelakuan Anji yang aneh sejak tadi. Ren namanya. Namun, ia menunda rasa penasarannya itu dan pura-pura tidak peduli dengan apa yang terjadi.

Di sisi lain, Anji mencoba menenangkan dirinya dan mencoba menghadapi situasi sekarang.

“Aku yakin, kemarin aku melakukan ini. Keadaannya sama persis seperti kemarin. Aku terlambat, dipanggil BK, dihukum, dan sekarang…” Anji mulai mengerti situasi.

Terbesit dipikiran Anji untuk mencoba suatu hal. Ia menengok teman di sebelahnya, Rei.

“Rei!” Anji berbisik pada rei.

“Oy.” Rei membalasnya dengan sedikit canggung.

“Mau taruhan ga ? Kalau habis ini ulangannya langsung diperiksa?”

“Hah? Serius,ji? Tahu darimana kamu?”

“Ya gak tahu, namanya juga taruhan, kan?”

“Kalau aku sih kayaknya gak akan diperiksa, soalnya Pak Azsce belum pernah meriksa hasil ulangan langsung, biasanya sebulan baru diperiksa, jadi, oke deh aku terima taruhan kamu.”

“Ya, kita lihat aja.”

Anji melanjutkan ulangannya. “Soalnya sama persis seperti kemarin.” Anji mengingat-ingat jawabannya kemarin, agar ia tidak akan memilih jawaban yang salah dua kali. Namun, ia tidak ingat kunci jawaban yang ditulis di papan kemarin.

“Setidaknya lebih baik dari yang kemarin.” Tekad Anji yang sudah mulai melupakan keterkejutannya saat pertama kali masuk kelas.

“Ya, waktu nya habis. Silahkan tukar jawaban kamu dengan teman di sebelah bangkumu! Cepat!” Pak Azsce menyudahi waktu ulangannya. Seisi kelas terkejut, kecuali Anji yang terlihat seperti sudah tahu hal ini akan terjadi. Ia memberikan kertas jawabannya pada Rei yang sedang melihat Anji dengan tatapan kecewa.

“Nih, jawaban aku.” Anji tersenyum penuh kemenangan.

“Wah gak terima aku, kamu pasti udah tahu kan sebelumnya?” Rei mencari alasan unutk membatalkan taruhannya.

“Santai saja Rei, yang tadi itu bercanda, aku hanya memastikan saja kok, tidak perlu dipikirkan.”

“Oh, syukurlah.” Rei tenang karena selamat dari taruhan. “Tapi bagaimana kau bisa tahu?” Rei penasaran.

“De Javu mungkin.” Jawab Anji seakan tidak ingin memberitahu jawabannya. Ia juga masih ragu kenapa ia bisa terjebak di hari kemarin. Masih ada satu misteri lagi, yaitu pop-up ‘Retry’ di komputernya tadi malam. Ia ingin segera pulang ke rumah dan mengeceknya.

Bel pulang telah berbunyi.

Anji pulang ke rumahnya dengan kondisi yang berbeda. Jika halnya kemarin ia pulang dengan rasa penuh kecewa, sekarang ia bisa pulang dengan senyuman di wajahnya. Ia mendapat nilai 8 pada ulangan sejarahnya.

“Aku harap ini kenyataan dan yang kemarin hanyalah mimpi.” Anji mulai menyalakan motornya dan pulang ke rumahnya. Tidak ada sedikit pun hambatan dan hanya 30 menit untuk sampai ke rumahnya. Memang jarak rumah dengan sekolahnya sangat jauh, tapi ia tidak mau ngekost karena beberapa alasan.

“Aku pulang.” Anji masuk ke rumahnya. Ia melihat foto keluarganya yang miring dan hampir jatuh dari atas lemari. Ia menghampiri dan mengambil foto tersebut.

“Apakah hari itu bisa terulang?” dalam hati Anji sambil melihat foto tersebut. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia langsung menyimpan kembali foto tersebut ke atas lemari dan menuju kamarnya.

“Retry, ya…” Anji melamun di depan komputernya yang sedang dinyalakan.

“Gak ada kan, huffft.” Anji tidak menemukan pop-up ‘Retry’ tersebut. Ia mulai meyakini bahwa sebenarnya ia tidak melakukan  hari yang sama dua kali, namun salah satunya pasti mimpi. Anji langsung pergi ke kasurnya tanpa mematikan komputernya. Ia tidur tanpa membawa beban.

Tinung!

Layar monitor tiba-tiba berganti ketika Anji sedang tidur.

“Apakah anda bahagia sekarang :)? Terima kasih sudah memakai jasa kami. :)”

BERSAMBUNG