Cerita ini hanya hasil dari kengawuran penulis.

Tidak ada satu pun yang dapat dibenarkan.

Pada malam yang sunyi, Anji memainkan gamenya dengan sangat serius. Jam dinding menunjukkan waktu sebelas malam. Pertanda untuk orang normal tidur. Namun, namanya juga si Anji. Ia pernah memecahkan rekor dua hari tanpa tidur hanya untuk menamatkan game bola di konsol miliknya. Mungkin game adalah segalanya baginya. Sekolah pun sering bolos, selama ada pelajaran yang membosankan di hari itu, ia akan memilih untuk bermain game di rumah. Ajaibnya, ia tidak pernah dikeluarkan dari sekolah karena sifatnya tersebut. Ia adalah aset yang berharga bagi sekolahnya. Bagaimana tidak, tahun lalu ketika masih duduk di tingkat satu SMA, ia sudah menyumbangkan sebuah medali emas dalam ajang olimpiade matematika tingkat nasional. Motivasi? Tentu saja, untuk bisa bolos jam pelajaran tanpa alpa di absen.

Game yang ia mainkan sudah hampir mencapai klimaksnya. Tiba-tiba ia terganggu oleh sebuah pop-up di browsernya. Awalnya dia tidak peduli, tapi lama-kelamaan efeknya mulai terasa. Komputer yang sedang ada di hadapannya menjadi lag. Dia kebingungan, padahal komputer miliknya sudah dirancang dengan teknologi yang paling mutakhir. Kemudian ia pun penasaran dengan isi pop-up tersebut. Ketika ia membukanya, di sana hanya terdapat tulisan “Retry”. Ia mengerutkan dahinya. Tanpa pikir panjang dia pun menutup pop-up tersebut. Komputernya kembali berjalan dengan lancar. Karena kejadian tersebut, Anji mulai merasa malas untuk melanjutkan gamenya. Ia lalu mematikan komputernya dan memutarkan kursi untuk melihat rak yang ada di sebelah kanannya.

“Holy…” dia tersentak. Sebuah kertas putih yang tertempel di lemarinya mengingatkan dia bahwa besok ada ulangan sejarah. Awalnya dia berniat untuk bolos, akan tetapi ulangan sejarah merupakan syarat dia untuk lanjut ke tingkat yang lebih tinggi. Sontan saja ia menengok jam di kamarnya. Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Ia memaksakan untuk belajar walau hanya sedikit. Namun apa daya, ia tertidur pada halaman buku yang pertama.

Esok harinya Anji terbangun. Namun matanya sangat sulit untuk melihat karena pantulan cahaya yang sangat terang. Ia melihat jam dindingnya, waktu menunjukkan pukul 7.00 hanya 5 menit lagi waktu yang tersisa untuknya hingga sampai ke sekolah. Tanpa persiapan ia pun langsung berangkat ke sekolahnya dengan menaiki motornya. Pakaian pun belum sempat disetrika terlebih dahulu. Dalam keadaan kusut ia pun mengendarai motor dengan sangat cepat.

Sial. Di tengah perjalanan ia terjebak macet. Ia hanya bisa pasrah terhadap keadaan. Singkat cerita, ia sampai di sekolah pada pukul setengah 9. Ulangan sejarah akan dilaksanakan pada pukul 9.15. Namun, ia harus menerima hukuman terlebih dahulu karena telat lebih dari batas normal. 40 menit waktu yang ia habiskan di ruang BK. Tangannya sudah bergetar dan ingin cepat-cepat menuju ke kelas untuk melaksanakan ulangan. Ketika sampai Pak Azsce guru sejarah di sekolah itu sedang membagikan soal dan lembar jawaban. Anji tidak berani menatap wajah guru tersebut dan cepat-cepat menuju bangkunya. Ulangan pun dimulai. Dari 20 soal pilihan ganda tidak ada satupun yang dapat dijawab oleh Anji. Ternyata, ia salah melihat materi yang akan diulangankan ditambah ia tidak belajar sama sekali tadi malam. Akhirnya dengan kekuatan menghitung kancing ia bisa menjawab ke-20 nomor tersebut.

“Kertasnya tolong ditukar, kita langsung periksa” kata Pak Azsce dengan dingin. “Bedebb…” Anji kesal. Ia melihat kertasnya tidak ada yang dicontreng sampai akhir.

Sepanjang waktu sekolah ia hanya memikirkan hasil ulangannya tersebut. Bagaimana jika ia benar-benar tidak naik kelas? Mungkin ia seseorang yang terlihat cuek dengan pelajaran, namun ada janji yang tidak bisa ia ingkari. Ia berjanji akan naik kelas dan bisa melanjutkan ke universitas yang ia inginkan kepada orang yang sangat dicintainya. Ia mulai bingung ketika teringat akan janji tersebut.

Bel waktu pulang telah berbunyi. Anji pulang dengan wajah yang termenung. Hingga ia berada di atas kasurnya ia masih melamun memikirkan hasil ulangannya. “Andai saja…” Anji mulai menyesali perbuatannya semalam. Seketika ia mengamuk dan melempar tas yang tadi ia bawa. Sebagian buku rusak dan tali tasnya putus. Ia lalu menyalakan komputernya sambil menekan tombol mouse berulang-ulang tanda kesal.

Retry. Anji terkejut tiba-tiba saja muncul tulisan tersebut di monitornya.namun, ia tidak berpikir lama dan langsung menekan tombol enter di keyboardnya. Ia tidak berpikir yang aneh-aneh, dia hanya berpikir mungkin ada yang error dan harus direstart. Karena setelah menekan enter komputernya merestart kembali.

Anji tiba-tiba saja merasa ngantuk. Dalam hitungan detik ia tertidur di depan komputernya.

Anji terbangun. Ia melihat kamarnya diterangi cahaya matahari yang masuk. Ia melihat jam dindingnya. Pukul 7.00. “Sial, telat lagi…” kesal Anji. Ia beranjak dari kursinya karena semalam ia tertidur ketika sedang menyalakan komputer. Kembali, tanpa persiapan, ia langsung berangkat menuju ke sekolah. Di tengah jalan ia terjebak macet. “Arrrgh, Whyy!?” ia pasrah.

Pukul setengah 9 ia sampai di sekolah, ia dihukum dan dipanggil ke ruang BK. 40 menit ia habiskan disana. Selesai dari ruangan tersebut ia langsung menuju kelasnya.

“Hah?” Anji bingung ketika melihat Pak Azsce sedang membagikan soal ulangan di kelasnya. Ia pun langsung melihat ke tasnya. Tali yang putus kemarin kembali menyambung. Ia bengong dan merasa aneh.

“Apa yang kamu lakukan di situ cepat duduk!” Pak Azsce menyuruh Anji untuk segera duduk. “Sebentar, apa-apaan ini?” Anji kebingungan.

“Ah! Masa sih?”

BERSAMBUNG