Merengek pada Waktu

Merengek pada Waktu

Jarak terbentang begitu luas

 

di antara kita, timur dan barat

 

Jawa dan Iberia

 

yang menolak untuk bermuara

 

meski banyak sungai telah kita lalui

 

 

 

Suatu hari nanti puisi-puisiku ini

 

akan terguyur hujan, termakan rayap,

 

tergeletak di pinggir jalan

 

bersama virus dan bakteri

 

 

 

Betapa kejamnya waktu

 

melahap kita dalam kegelapan

 

meski kau adalah bintang

 

yang dapat memancarkan cahayanya sendiri

 

tapi kau tak dapat mengelak

 

dari yang benar dan yang salah

 

 

 

Pernah suatu masa kau menyelinap

 

ke dalam mimpi utopiaku

 

kau tersenyum simpul

 

dan pergi meninggalkanku

 

apakah itu sebuah pertanda,

 

bahwa kau akan melanjutkan

 

hidupmu tanpaku, bahwa kau

 

tidak mengenalku sama sekali?

 

 

 

Rasakanlah, betapa kejamnya waktu

 

menggores kalbumu hingga terluka

 

lalu ia taburi garam di atasnya

 

 

 

Suatu hari nanti jua

 

waktu akan menenggelamkan

 

sajak-sajakku untukmu

 

tak ada lagi yang membacanya

 

 

 

Dan kau pun akan benar-benar

 

pergi dari hidupku

 

menyapu diriku dari deretan

 

orang-orang yang pernah kau lirik

 

tapi, aku selalu mencintai dirimu

 

hingga ketiadaan terbalas

 

oleh keabadian

Leave a Reply