ISLAM DAN STIGMA KEKERASAN

ISLAM DAN STIGMA KEKERASAN

Oleh Melania Fidela G

Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), karenanya misi terutama dari nabi Muhammad SAW sebagai khatamul anbiya’ wal mursalin (pamungkas para nabi dan rasul) adalah memperbaiki akhlak yang mulia (akhlakul karimah). Ini berarti bahwa akhlak merupakan sesuatu yang inti dari Islam itu sendiri, sesuatu yang sangat fundamental dalam Islam itu sendiri. Islam tanpa akhlak, adalah kesia-siaan, Islam tanpa akhlak berarti seperti manusia tanpa nyawa atau Kematian.

Oleh sebab itu, mengingat pentingnya akhlak dalam Islam ini, maka Allah SWT memerintahkan kepada seluruh umat manusia untuk selalu menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT, dengan sesama umat manusia, dan seluruh alam semesta. Menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT berarti kita sebagai manusia harus selalu merasakan atau menyadari kehadiran Allah dalam jiwa kita, karenanya kita harus selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi larangannya. Menjaga hubungan dengan sesama manusia berarti kita harus selalu menghormati dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan, apapun situasi dan kondisinya. Menjaga hubungan baik dengan alam semesta itu berarti kita sebagai manusia harus selalu menjaga lingkungan hidup kita dan alam semesta ini dengan sangat baik.

Tetapi apa yang terjadi dewasa ini? Begitu banyak diantara kaum muslimin atau umat Islam itu sendiri yang tidak benar-benar serius memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, tidak begitu memperhatikan pentingnya akhlakul karimah itu, tidak memperhatikan bagaimana menjaga hubungan yang baik dengan Allah dan alam semesta. Malah sering kali kita sadari bahwa umat Islam tidak sadar dalam menciderai perjuangan baginda nabi besar Muhammad SAW, yang selalu menjaga keseimbangan hubungannya antara dirinya dengan Allah, dirinya dengan sesama umat manusia, dan alam semesta.

Ambil contoh studi kasus Arab Spring (gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi di dunia Arab, sejak 18 Desember 2010, yang dimulai dari Tunisia, Mesir, Libya, Bahrain, Suriah, Yaman, Aljazair, Irak,Yordania, Maroko, Oman, Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, Sahara Barat, dan perbatasan Israel). Betapa ironisnya Islam yang seharusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, namun di tangan kaum radikal atau ekstrimis, Islam seolah berubah menjadi agama yang penuh kekerasan, menjadi agama yang haus darah. Sesama muslim tiba-tiba menjadi saling membantai satu sama lain, hingga nampak sangat mengerikan. Semuanya mempunyai alasan masing-masing untuk membenarkan tindak kekerasannya, celakanya mereka semua menyatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan firman-firman Tuhan yang terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan sunnah nabi. Bukankah itu bertentangan dengan spririt Islam yang lebih mencintai perdamaian daripada kekerasan? Bukankah itu bertentangan dengan karakteristik Muhammad Rasulullah SAW, sang teladan umat manusia, yang lebih mengutamakan ilmu dan kesabaran daripada segala permusuhan atau pertentangan? Mencabut nyawa manusia adalah hak yang hanya ada pada Allah, dan manusia diharamkan untuk melakukan pembunuhan itu kecuali dengan alasan yang sangat kuat. Allah memberikan ilustrasi pada manusia melalui firman-Nya bahwa membunuh satu orang, itu sama dengan membunuh satu kaum, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran (Q.S Al Maidah Ayat 32).

Apa yang terjadi pada keadaan umat Islam yang begitu gampang dan gemar melakukan kekerasan seperti diatas tersebut, menunjukkan bahwa umat Islam saat ini tidak memahami keadaan politik yang sesungguhnya, hingga umat Islam begitu mudah diadu domba dan berperang satu sama lain. Seperti ditimbulkannya sentimen Sunni dan Syiah oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang menyebabkan terpecahnya umat Islam yang berfaham Sunni dan Syiah. Selain itu, apa yang terjadi pada mereka, atau saudara-saudara seagama kita yang berperang melawan saudara seagama sendiri menunjukkam ada sesuatu yang salah dari diri mereka dalam memahami Islam itu sendiri, memahami ayat-ayat suci Al-Quran, dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat suci Al-Quran tidaklah bisa semata dipahami secara tekstual atau berdasarkan teks semata, melainkan pula harus dipahami secara kontekstual. Ini berarti selain mengarti teksnya, kita juga harus memahami konteks, asbabunnuzul (sebab-sebab diturunkannya ayat al-Quran tersebut). Jika kita tidak memperhatikan konteks dan asbabunnuzul-nya suatu ayat al-Quran atau sunnah nabi, maka kita akan berpotensi untuk salah mengerti dan memahami ayat Al-Quran itu.

Kita tentu tidak menginginkan semua ini terjadi, kita tidak menginginkan saudara-saudara kita di negeri yang jauh disana terus menerus merasakan penderitaan, terus menerus disalahakan oleh kesalahan yang bahkan tidak ingin mereka perbuat. Kita tidak ingin mereka yang telah menyeleweng begitu jauh dari ajaran Islam, membuat risiko mengubah dunia ini menjadi dystopia yang bagai mimpi buruk. Kita harus menghentikan ini bagaimanapun caranya. Ini mungkin tidak terjadi disini, tapi ini terjadi pada saat ini di tempat yang berbeda. Kita mengabaikan mereka disana yang menjadi korban berarti mengabaikan hak-hak kemanusiaan. Jika itu dianggap sesuatu yang berlebihan, paling tidak kita bisa melakukan dari hal yang terkecil, yaitu mengingatkan sesama agar selalu menjaga nilai-nilai manusia lain, menghormati mereka, menjaga hubungan baik dengan Tuhannya, sesama manusia, dan alam semseta. Pada akhirnya, kita harus kembali pada Islam yang penuh dengan perdamaian dan kebaikan bagi seluruh umat manusia dan semesta hingga pantas disebut sebagai agama rahmatan lil alamin.

Leave a Reply