Dunia Jelmaan

Dunia Jelmaan

Di suatu dunia, jelmaan manusia saling berlomba memperlihatkan kebahagiaan mereka. Satu jelmaan manusia terhitung membahagiakan dirinya sendiri lewat senyum yang dia tebarkan sembari menggaet jelmaan-jelmaan lainnya dengan paksa. Bukan hanya kebahagiaan, tidak sedikit manusia yang justru pamer kemuskilan. Jelmaan-jelmaan itu kesepian, berharap jelmaan lainnya dapat memedulikannya dengan secuil komentar.

Salah satu jelmaan manusia hobinya pergi ke toko-toko pakaian ternama, memamerkan keahlian dalam menghabiskan biaya. Mungkin hidupnya terlalu mudah, setiap hari pergi ke tempat-tempat yang tak kenal murah. Melihat kebolehan seorang jelmaan itu, jelmaan-jelmaan lainnya mengacungkan jempol, memecah tawa, bahkan tidak jarang menyumbang hati mereka secara sukarela.

Setiap detik, para jelmaan manusia itu tampak cerewet satu sama lain. Mereka saling berceloteh riang di suatu jelmaan perkumpulaan. Mereka saling bertukar pandang lewat suatu jelmaan forum diskusi. Dengan semangat, mereka saling unjuk kemahiran saat sedang berkumpul bersama-sama di dalam suatu jelmaan klub hobi. Jelmaan-jelmaan manusia itu memang antusias dimana-mana, mengekspresikan berbagai macam jelmaan wajah mereka.

Namun, ada beberapa jelmaan manusia yang tidak berani cerewet di mana pun. Mereka lebih memilih menjadi pendiam, menjadi pengamat silang-saling jelmaan kehidupan. Berbagai alasan menjadi landasan mereka menjelma manusia yang kurang menyenangkan dan hanya punya sedikit teman. Salah satunya adalah: biarlah kekisruhan itu hanya menjadi jelmaan. Mereka tidak peduli dengan jelmaan-jelmaan kesibukan yang terjadi di dalam kehidupan yang lembam.

Ayu adalah salah satu jelmaan manusia yang pasif. Dia tidak suka terlalu sering berceloteh di dunia itu, sekadar pamer diri kepada temannya lewat mimik wajah maupun kata-kata. Dia tidak suka terlalu sering mencerocoskan kebimbangan, berharap jelmaan manusia lain hadir untuk sedikit mengusir kehampaan.

Tidak jarang, beberapa jelmaan temannya memaksanya untuk mengaktifkan diri. Terutama saat Ayu menjadi orang penting di dalam suatu kegiatan-tanpa-jelmaan.

“Ayu, kamu kemana saja? Kami butuh berdiskusi denganmu,” ujar teman jelmaan Ayu.

“Sibuk, tidak sempat menjelma,” jawab Ayu.

“Ayolah, tengoklah jelmaan forum diskusi kita. Sepi tanpa kamu. Kami butuh kamu.”

“Baiklah. Topik hangat apa yang sedang dibicarakan?”

“Datang saja dulu ke forum, baru boleh bertanya.”

Suatu waktu, ajakan jelmaan-jelmaan temannya merajalela. Ayu terpaksa harus menjelma menjadi seseorang yang antusias menanggapi cerocosan mereka. Tidak jarang, kini malah Ayu yang jago memancing dialog-dialog penting yang nantinya menjelma menjadi suatu kesimpulan. Untuk perihal diskusi seperti ini, sesungguhnya Ayu cukup tahu diri kalau ia harus menjelma menjadi seseorang yang cerewet.

Hingga suatu ketika, tiba saatnya Ayu tertarik untuk menjelma menjadi beberapa manusia. Ia menjelma menjadi gadis bersenyum manis yang mengundang hati dan komentar jelmaan-jelmaan lelaki. Ia menjelma menjadi pelancong kuliner yang mengundang apresiasi jelmaan-jelmaan kawannya yang haus rekreasi. Ia menjelma menjadi penjelajah ruang yang mengundang bisik-bisik orang. Kesemuanya itu sedikit membahagiakan hati Ayu, membuat hatinya merasa hangat. Kehadiran jelmaan-jelmaan temannya lewat jelmaan perbincangan telah mengusir sedikit rasa sepinya. Bahkan, tidak jarang ampuh mengusir kepenatan hidupnya.

Jelmaan Ayu pada akhirnya berubah menjadi sebuah candu. Saban hari Ayu tidak tahan kalau tidak menjelma satu detik saja, berbagi suasana hati dengan jelmaan kawan-kawannya. Ia akan kebingungan kalau tidak menelaah kabar jelmaan sahabat-sahabatnya. Lebih bingung lagi kalau semalam saja tidak berinteraksi dengan jelmaan kekasihnya. Atau memantau interaksi sang kekasih dengan jelmaan teman-teman perempuannya.

Maka bukan setiap hari lagi Ayu menjelma. Nyaris setiap jam dia selalu menjelma setidak-tidaknya barang tiga sampai empat menit saja. Bahkan kini sedetik saja tidak menjelma, hatinya gusar.

Terlebih lagi kalau baterai ponselnya habis, Ayu akan kebingungan sekali. Dunia jelmaan itu akan sirna dari hidupnya untuk sementara waktu. Kalau sudah begitu, kepada siapa dia harus bertanya? Keseringan menjelma membuatnya bingung menghadapi kehampaan yang sebenarnya.

Leave a Reply