Hujan deras sedang mengguyur bumi sore ini. Jalanan sangat sepi, tidak ada kendaraan yang berlalu-lalang. Yap, seperti dugaan ku saat nya bermain hujan-hujanan. Bagi sebagian besar anak kecil seperti kami, hujan adalah suatu berkah sebagai waktu bermain kami.

“Renaldy, maen yuk” terdengar suara dari luar rumah

“Hai Qaila, kok kamu cuma sendiri? Yang lain mana?” ucap ku

“Yang lain gak di bolehin sama mamanya buat hujan-hujanan”

“ok, bentar ya. Ma… aku main hujan-hujanan ya sama Qaila?” Teriak keras

“Ya, hati-hati ya Rel, jangan jauh-jauh mainnya” balas mama

Kami pun tanpa bertutur kata lagi pergi keluar untuk bermain, karena jalanan yang saat itu sedang sepi, menjadi tempat bermain kami.

“Ila main perang-perang di jalan yuk”

“gak ah, aku gak suka main perang-perangan, aku lihat kamu ajah deh dari sini” balasnya

“ok”

Akupun bermain perang-perangan layaknya prajurit beneran yang sedang menyelamatkan bumi, kadang aku juga melihat Qaila tertawa melihatku. Tiba- tiba mobil dengan kecepatan tinggi melintas, kaki ku tidak bisa ku gerakan, rasanya kaku. Dengan cepat Qaila mendorong ku. Brakkkk!!!! Suara tertabak terdengan jelas di belakangku.

“Ah! Mimpi itu lagi” kaget dan langsung terbangun

“Ternyata pagi ini turun hujan” sambil melihat jendela yang berada di sisiku

Entah mengapa aku masih belum melupakan kejadian 10 tahun yang lalu, salah satu teman berharga ku meninggal karena ulah ku sendiri. Aku sudah berusaha melupakannya tapi tetap saja terngiang kembali.

“Nampaknya hari ini tidak akan ada upacara karena hujan….” sedikit senang

Aku langsung bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, sekolah ku juga tidak bergitu jauh dari tempat kos aku, hanya naik kendaraan umum, 20 menit sudah sampai di sekolahku. Ya aku duduk di bangku SMA kelas 11, di SMA Nusa Bangsa Jakarta Timur. Walaupun begitu hujan masih menjadi trauma bagi diriku, rasanya ada sedikit ketakutan dalam hati ini mendengar suara hujan.

“Huffft, akhirnya sampai walau telat sedikit, seperti dugaan ku tidak ada upacara hari ini”

Aku langsung menuju secepatnya kedalam kelas ku, sesampainya di depan kelas, aku tiba-tiba terdiam kaku, seluruh badan ku sudah tidak bisa di gerakan, pikiran ku mulai kacau. Rasanya tak ingin aku pergi ke sekolah, ingatan 10 tahun yang lalu kembali terikat kuat di dalam pikirinku.

“Tidak mungkin, siapa dia? Murid baru? Kenapa wajahnya sangat mirip dengannya?”