Namaku Keiko, ingatlah.

Aku tidak sedang bercanda.

Percayalah padaku, ini semua benar terjadi.

αβ

Delapan lebih lima belas, sial aku terlambat. Aku tidak mau dimarahi Paman Sid lagi. Ini kesekian kalinya aku terlambat dan ini yang terparah. Membasuh muka, menggosok gigi, ah, kukira sudah cukup. Dengan sebuah apel di tanganku, bergegaslah aku pergi ke perpustakaan kota. Tidak ada kendaraan lain yang bisa kugunakan,  hanya sepeda hybrid  biru dengan tambahan keranjang kecil yang bisa kugunakan.

“K! Kau terlambat lagi. Kamu tidak mau kan bayaranmu saya kurangi?!”

“Maaf paman saya terlambat lagi. Aku janji ini yang terakhir.”

“Alah janji macam apa itu. Minggu depan pun kamu pasti bicara seperti itu lagi.” Senyum malu, pipi merah, nampak jelas terlukis diwajahku.

“Sudah sana, sebagai gantinya kamu harus membereskan buku-buku tua di gudang bawah tanah.”Mataku terbelalak ketika mendengar ‘bawah tanah’, tidak bisa mengelak, aku hanya mengangguk-angguk saja. Selama ini aku tak pernah berani masuk kesana, seram.

Suara khas pintu tua gudang dengan motif kuno yang khas seperti di film-film horor membuat bulu kudukku berdiri. Ah, mengapa hukuman hari ini berat sekali.Kubuka pintu itu perlahan dan ya sunyi, gelap, dan pengap sekali, serta jaring laba-laba pun terlihat banyak sekali. Aku paling takut dengan hal-hal seperti ini. Gila, aku menyerah. Tapi,  bagaimana jika bayaranku dipotong? Ah tidak, tidak boleh, aku bisa, aku berani. Tap tap tap, tiga langkah. Satu lagi, bruk! Tiba-tiba terdengar suara buku terjatuh dari rak buku di depanku. Oh tuhan, ayolah, apa lagi ini. Kakiku seketika tidak bisa digerakkan sama sekali. Ingin berbalik dan berlari namun tak kuasa. Sial,  sial, sial sekali aku.

“Hahahahaha” suara lelaki yang tidak asing lagi bagiku, Exa (Eksa) . “Boo! mukamu lucu sekali K,”ia tertawa terbahak-bahak hingga akhirnya tersedaklah ia, mampus.

“Sedang apa kamu di sini?” tanyaku.

“Aku sedang mencari buku aneh. Judulnya Alphabet,”  jelas X, panggilanku untuknya.

“Buku apa itu? Sejarah abjad-kah?”

“Entahlah, aku belum pernah melihatnya apalagi membacanya.”

“Kamu memang unik X. Bagaimana kamu tau buku itu ada?” tanyaku lagi.

“Tidak,  aku tidak tahu buku itu benar ada atau tidak, lucu kan.Tapi menurut buku yang pernah ku baca,  buku itu memuat hal-hal menakjubjan, buku pengantar menuju portal dunia ajaib, Alphabetland.

X memang seperti itu, ia hobi mencari hal-hal aneh dan kali ini ia mencari buku yang tidak jelas keberadaannya. Namun apakah benar buku itu ada?

Debu dimana-mana, aku sulit bernafas. Sementara aku sibuk membereskan dan membersihkan buku-buku, X tetap saja mencari buku misteriusnya. Perlahan ujung bibirku mengangkat dengan sendirinya, mataku sedikit menyipit. Ah, lucu sekali dia.

Satu jam sudah aku dan X berada di gudang tua ini. Jam dinding besar tempo dulu yang dipajang di dekat pintu pun telah menunjukan pukul sembilan lebih lima belas, sudah satu jam. Selama itu juga nampaknya X belum menemukan buku misteriusnya. Saat aku bersih-bersih pun,  belum juga kutemukan buku dengan judul Alphabet  itu. Energiku sudah melemah. Bayangkan saja, gudang ini sangatlah besar. Tak pernah disangka-sangka memang, gudangnya luas. Gila juga, aku membersihkan ini semua seorang diri. Dia si X, dari tadi rasanya bukan malah membantu aku, namun dia malah mengacak-ngacak buku-buku di setiap rak, bikin berantakan.

Rak nomor satu, dua, tiga, dan empat, akhirnya empat rak sudah selesai kurapihkan. Brak! Brak! Brak!  terdengar suara seperti sedang memukul sesuatu.

“Hei X! Kau tidak sedang menghancurkan tempat ini kan?” Teriakku dari balik rak nomor empat.

“K, cepat kemari! Aku menemukan sesuatu. Wah luarbiasa,” timpal X, dari pojok gudang.

Aku hampiri X, dan ternyata, ia benar-benar menghancurkan tempat ini. Dinding kayu di pojokkan gudang itu kini telah jebol.Dari balik dinding, terlihat sebuah tangga menuju sebuah tempat. Tanpa pikir panjang, kami menaiki tangga itu,  dan tibalah kami pada sebuah ruangan, kira-kira letaknya diatap.

Seperti ruangan rahasia. Dinding-dindingnya ditempeli kertas-kertas, seperti sebuah peta, rak-rak nya dipenuhi buku dengan debu disekelilingnya, jam berbandulnya sudah tidak berfungsi lagi, ada satu lagi, teleskop kuno yang mengarah ke jendela atap. Tak habis pikir, ternyata ruang rahasia seperti ini benar-benar ada, dan X berhasil menemukannya.Sementara aku menatapi barang-barang di ruangan itu,  rupanya X telah disibukkan dengan pencariannya, ya, menemukan buku yang berjudul alphabet.

Buku berwarna-warni di atas lemari tua dekat teleskop mengalihkah perhatianku. Buku itu nampak berbeda dari yang lainnya. Lalu, aku mengambilnya dan membersihkan debu diatasnya. Tulisan pada sampul buku mulai terlihat, a-l-pha-b-et, alphabet, jelas sekali, judul sampul bukunya alphabet. Wah luarbiasa, buku itu memang benar benar ada. Segeralah aku memberitahu X. Ia nampak sumringah sekali, baru kali ini aku melihatnya seperti itu.Kemudian, dibukalah buku tersebut bersama-sama. Kosong. Isinya kosong. Hanya ratusan lembar kertas coklat kosong di dalamnya.

“Apa-apaan ini?! Hanya kertas kosong,” seru si X. “Percuma saja aku mencarinya selama ini.”

“Hei X,  sebentar-sebentar, lihat ini,”kataku kepadanya sambil menunjukan sebuah pena pada bagian samping sampul buku.

“Ini pena. Untuk apa?  Coba saja kau tuliskan diatas kertasnya! Mungkin saja akan terjadi sesuatu, ” balas X menyuruhku.

“Tinta. Aku butuh tinta,” pintaku. “sebantar akan kucarikan.” Empat menit kemudian ia kembali dengan membawa tinta hitam di tangannya. Segera ku goreskan pena ini pada kertas coklat itu.

“Hai! Namaku Keiko dan ini temanku Exa.”

Tiba-tiba tulisannya mulai memudar,  seperti merembes ke halaman yang lainnya. Namun, ajaibnya, tulisan itu menghilang, bak hilang oleh sapuan angin. Bagaimana bisa? Beberapa saat kemudian, anehnya lagi, halaman lain terbuka sendiri,  lalu muncul huruf-huruf aneh lainnya yang tersusun menjadi kalimat-kalimat.

“Hai ‘Pencari Baru’! Bisakah kalian menemukan kami?”  tidak lama tulisan tersebut kembali menghilang.

Sontak, kami terdiam. Bagaimana bisa kami mengobrol dengan sebuah buku? Benar-benar ajaib. Dengan pena di tanganku kutulis kembali kalimat lain diatas kertas tadi.

“Bagaimana caranya menemukan kalian?”

Lalu buku menjawab, “Kami tersembunyi. Apakah kalian bersedia menemukan kami? “

Kutulis lagi, “Kami bersedia. Berikanlah kami petunjuk! “

Lalu muncul lagi, “Kalian membutuhkan dua puluh enam kunci untuk menemukan kami.Mereka ada di sekumpulan benda tebal, Nomor 1, 124,  2, 11, 8 dari kiri. Temukanlah mereka sebelum langit memerah, saat kami menghilang.”

“Ini teka-teki, X. Kau tepikirkan sesuatu? Apakah ada di sekumpulan benda tebal tersimpan sebegitu banyaknya kunci. Apa maksudnya itu? ”

“Sebentar, sepertinya aku mengetahui jawabannya,” kata X dengan alis mengerut, sepertinya otak dia sedang bekerja 10 kali lipat dari biasanya. Ah lucu sekali. Untuk kesekian kalinya, terlukislah senyum di wajahku. Tapi apalah arti dari sebentar, nyatanya ia berfikir hampir satu jam lamanya,  bahkan mungkin sudah lebih.

Lalu akhirnya ia membuka mulutnya, “Jadi begini K, ini dugaanku. Sepertinya kunci-kunci tersebut bukanlah sebuah kunci seperti biasanya namun kumpulah kata-kata dari berbagai buku. Kau ingat? ‘Mereka ada di sekumpulan benda tebal, Nomor 1, 124,  2, 11, 8 dari kiri.’  itulah intinya. Kita harus mencari kata pada halaman 124, paragraf 2, baris kesebelas, dan kata ke 8 dari kiri,  mudah sekali. Lalu kita harus segera menemukannya sebelum senja, jika lebih dari itu kita tidak akan pernah bisa menemukan dunia ajaibnya. Ada satu hal yang menggangguku, aku tidak tahu apa maksudnya Nomor 1. Apa kau tahu sesuatu?” lanjut X dengan penjelasannya yang panjang lebar.

“Nomor 1? Hmmm. Oh ya! Apakah mungkin itu adalah nomor rak bukunya. Kau tahu? Rak-rak buku di gudang bawah tanah tadi memiliki nomor-nomor di bagian sampingnya. Lebih baik kita periksa kembali,”kataku padanya.

Dengan itu kami bergegas kembali menuju gudang bawah tanah melalui tangga yang merupakan jalan masuk kami ke ruang ini. Tidak lupa, ku bawa juga buku alphabetnya.

Jika tidak salah,  rak nomor satu itu rak yang dekat jam besar tempo dulu sebelah pintu masuk. Hmm,  mataku di buka lebar-lebar dan ya betul sekali, rak nomor satu berada tepat di samping jam.

“Tunggu X. Sepertinya ada satu hal lagi yang kamu lupakan”

“Apa itu?”

“Coba ingat-ingat kembali kalimat tadi, ‘kalian membutuhkan dua puluh enam kunci untuk menemukan kami.’  Totalnya dua puluh enam. Maksudnya apa itu? Hipotesa ku, itu menujukan jumlah buku dengan judul dari A sampai Z, jika dihitung totalnya pas 26, seperti jumlah alfabet. Bagaimana kalu kita mencari lalu mengurutkan judul bukunya dari A samapai Z?”

“Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya. Ayo kita coba!”

Semua Buku yang ada di rak tersebut kami urutkan. Mulai dari buku yang berjudul Aku, Balthazar, Caddie Woodlawn, hingga Zen in the Art of Archery. Uniknya, buku-buku di rak tersebut jumlahnya tepat 26, dan judul bukunya pun memang betul berurutan satu-satu dari A sampai Z. Setelah itu,  kami mulai mencari kata pada halaman 124, paragraf ke-2, baris ke-11, dan kata ke-8 dari kiri pada setiap bukunya. Sebetulnya kami ragu pada angka 8.

Setengah jam kemudian, kami telah selesai mengumpulkan kata-kata itu. Ternyata kata-kata tersebut terangkai menjadi sebuah kalimat. Kalimatnya terdiri dari satu persatu abjad dari A sampai Z, semuanya tepat satu-satu. X membaca kaimatnya keras-keras, “Portalnya adalah jam besar yang menghadap utara Queen Valborga Zen senang oleh karena itu lompatlah cukup empat x dan waktu hentikanlah nanti rahasia gerbang fantasi terbuka.”

Seketika angin berhembus, lampu-lampu mulai menyala tak karuan, buku alphabet terhempas dari genggamanku dan lembaran kertasnya terbuka dengan sendirinya. Kemudian muncul kembali tulisan aneh, “Lakukanlah perintahnya!  Kalian hampir menemukan kami. Queen Valborga Zen telah menunggu kalian. Waktu kalian tidak banyak, cepatlah! Ketika buku ini tertutup kembali, selesai sudah, waktu habis.”

Jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ini sudah terlalu tak masuk akal. Tapi percayalah ini benar-benar terjadi.

“X, apa yang harus kita lakukan sekarang? Waktunya tidak banyak. Menurutku kita harus menemukan jamnya terlebih dahulu.”

“Iya aku tahu itu, tapi disekitar sini apakah ada jam besar yang menghadap utara?” X malah balik menanga padaku. Ia terlihat sedikit panik dan tidak bisa berfikir.

“Tunggu, jam besar? Oh ya,  aku ingat,” langsung aku memutar tubuhku, dan benar, tepat di belakangku ada jam besar tempo dulu yang menghadap utara. “X,  aku menemukannya, berbaliklah!” X langsung memutar badannya.

“Selanjutnya, apa selanjutnya?” keningnya berkerut lagi “Oh ya,  ‘oleh karena itu lompatlah cukup empat x’  K,  Ayo melompat empat kali!” seketika kami langsung melompat,  satu, dua, tiga, dan empat, “waktu berhentilah! Bukakan gerbangnya untuk kami, Queen Valborga Zen telah menunggu kami,” tambah X dengat suara lantang sambil menunjuki jam besar itu. Apa-apaan dia?  Tapi nampaknnya ampuh.

Teng… Teng…  Teng…  Teng….  Suara jam mengagetkan kami. Jarum-jarum pada jam itu berhenti, waktu benar-benar berhenti. Debu-debu yang tadinya berterbangan pun seakan berhenti. Semuanya berhenti kecuali Aku dan X. Ruangan menggelap, gubrak!  Brak!  Refleks tanganku menggenggam tangan X di sebelahku. Buku-buku dibelakang kami mulai berjatuhan. Jantungku semakakin meletup-letup, gila, ini menyeramkan. Aku takut suatu hal mengerikan akan terjadi. Genggamanku semakin erat, badanku kini penuh dengan keringat. Lalu buku-buku di lantai mulai melayang, seakan gravitasi di dunia ini telah menghilang. Setelah itu,  tubuh kami mulai terangkat.

“X, aku takut” aku hampir menangis, namun di wajahnya sama sekali tidak terlihat ketakutan. Tadi ia terlihat panik,  namu sekarang pancaran lelaki tangguhlah yang ku lihat.

“Tidak apa-apa K. Kamu pasti ketakutan, ini wajar. Tapi tenanglah aku ada di sampingmu. Ayo kita hadapi bersama-sama,” balas X menenangkanku sambil membalas genggamanku lebih erat.

Kriiiiing….  Setelah suara bel itu, silau, semuanya putih. Aku hampir tidak sadarkan diri. Aku terhentak. Aku tidak merasakan genggamannya lagi. Sekarang aku tidak bisa mendengar apapun. Lemas, semakin lemas, dan akhirnya aku benar-benar tidak sadarkan diri.

“K! K! Bangunlah! Kita berhasil menemukannya! K! Ayolah!” suara samar-samar terdengar ditelingaku. “K ayolah! Kita sudah sampai, suara nya makin jelas terdengar. Seperti saat pertama kali bangun tidur,  pusing, aku melihat X tepat di sampingku.

“X,  apa yang terjadi? Dan dimana kita? Bukannya tadi kita sedang melayang di gudang? Oh ya, apakah kita sudah sampai? Kita menemukannya? Apa tempat ini hanyalah tempat tidur? Apa ini? Apa?  Jelaskan padaku!” tanpa membiarkan X membuka mulutnya sama sekal, aku terus saja mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan.

“Sttt, makannya biarkan aku bicara. Tadi setelah suara bel itu kita terhempas begitu saja kan? Dan setelahnya kita dibuat tidak sadarkan diri. Lalu setelah itu aku tersadar kita sudar berada di tempat lain. Ya kita sudah tiba di alphabetland. Saat itu kau tetap saja tidak sadarkan diri. Aku tidak mau meninggalkanmu di tempat itu jadi aku memutuskan untuk menggendongmu ke sebuah tempat seperti istana kerajaan. Rupanya mereka sudah menunggu kehadiran kita. Lalu kau di baringkan di sini. Oh iya, satu lagi,  rupanya kau berat sekali K. Pinggangku sudah hampir copot,”jelas X, panjang sekali.

“Asalkan kau tau ya aku tidak berat. Berat badanku hanya 45. Cukup ringan kan?” malu sekali aku saat mengetahui ia menggendongku.

“Oh K kita harus bergegas menuju aula. Mereka menunggu kita disana.”

Segeralah kami keluar dari ruangan itu menuju aula istana. Megah sekali, penuh warna namun tetap terlihat elegan. Hiasan dindingnya banyak sekali memuat kata-kata asing yang sama sekali aku tidak mengerti apa maksudnya. Langit-langitnya ajaib, nampak seperti langit sungguhan. Jendela-jendelanya sangat besar yang mengarah ke sebuah taman. Sejuk sekali. Lantainya berwarna biru dan terlukis banyak sekali jenis jam. Arsitektur istana ini cantik sekali. Aku suka. Pantas saja, keberadaan buku dan tempat ini dirahasiakan.

Pintu kayu menuju aula itu besar sekali, nampaknya tidak cukup satu orang saja untuk membukanya. Saat kami mendekat untuk mencoba membukanya, pintu itu malah terbuka dengan sendirinya. Wah pintu otomatis ya. Di dalam aula hanya ada seseorang yang sedang duduk di singgasana dan dua pelayan disampingnya. Dia cantik sekali. Oh, apakah dia Queen Valborga Zen itu?

Queen Valborga Zen tersenyum kepada kami, “keiko dan Exa. Kalian cocok sekali”. Mau sekali dibilang seperti itu olehnya. Apakah benar aku cocok dengannya? Semoga saja iya, ups.

“Terimakasih telah berhasil memecahkan teka-tekinya. Aku sungguh senang ada yang berkunjung lagi ke tempat seperti ini setelah sekian lamanya. Kalian adalah pengunjung nomor 88. Tetapi kalian adalah yang pertama kalinya masuk ketempat ini berdua. Pendahulu kalian hanya datang seorang-seorang saja. Selamat. Oleh karena itu, sebagai hadiahnya kalian boleh tinggal di sini selama satu tahun penuh,” jelas Yang Mulia Ratu.

“Wah satu tahun penuh?  Lama sekali. Yang Mulia izinkan aku menanyakan sesuatu,” kata X.

“Silahkan. Tanyakan sebanyak yang kau mau.”

“Jika kami berada di tempat ini satu tahun penuh,  itu berarti kami meninggalkaan kehidupan kami di dunia nyata selama itu?”

“Ya, kau benar. Tetapi, kalau kalian pergi dari tempat ini sebelum senja tiba. Jangan khawatir, kalian hanya akan terlihat tidak pergi kemanapun karena waktu di dunia kalian telah aku hentikan tetapi hanya sampai senja. Setelah itu kalian tidak dapat kembali ke tempat ini lagi. Cukup? ”

“Terimaksih Yang Mulia. Sudah cukup, aku mengerti.Oh ya, satu lagi. Bagaimana caranya kami keluar dari sini?”

“Cukup bilang padaku. Aku akan mengantar kalian pulang.”

“Terimakasih yang mulia. Kami sudah memutuskan. Kami hanya akan tinggal di sini sampai senja.”

Keputusan macam apa itu. Ia sama sekali tidak meminta pendapatku. Padahal tinggal di sini selama satu tahun penuh bukan hal yang buruk juga.

“Baiklah, sebelum kalian berkeliling ditempat ini marilah kita menyantap makanannya,” kata Yang Mulia Ratu Valborga Zen sambil menjentikan jarinya. Seketika hal ajaib kembali terjadi. Meja-meja secara ajaib bermunculan. Kemudia ia menjentikan jarinya sekali lagi dan makanan enak bermunculan. Setelah itu kami langsung memakan hidangan lezat tersebut. Enak sekali, wah perutku penuh.

Teng…  Teng…  Jam diruagan ini mengingatkan kami bahwa hari telah siang. Waktu kami sampai untuk menelusuri tempat ini tidak banyak. Aku dan X memutuskan hanya akan berkeliling di dalam istana untuk melihat indahnya arsitektur bangunan ini.

Aku dan X pergi bersama-sama. Pertama sayap kiri istana kami telusuri. Disana tidak banyak yang spesial hanya terdapat kamar-kamar dan dapur. Di sayap kanan, lain lagi, di sana lebih istimewa. Yang membuat aku menyebutmya istimewa karena di sana terdapat perpustakaan yang sangat besar. Judul-judul bukunya terurut mulai dari A sampai Z. Koleksi buku-bukunya pun berbeda sekali dengan yang kutemukan pada dunia nyata. Saat  kuperiksa isinya, tulisan di dalamnya secara otomatis menyesuaikan dengan bahasa yang kugunakan. Sangking menyukainya tempat itu aku hampir melupakan X. Kini aku tak tahu lagi ia berada di mana.

“Keiko!!!  K!  Cepat kemari, gawat sekali,”teriak X dengan napas terengah-engah

Padahal ini perpustakaan. Bernani-beraninya ia berteriak seperti itu. Aku tidak mau mengganggu orang lain jadi segera ku hampiri dia.

“Ada apa? Kau menggangguku. Aku sedang asyik dengan buku-buku di sini.”

“Ah sudahlah hentikan itu! Lihatlah!” tunjuk X pada jendela besar. “Lihat mataharinya! Ini hampir senja. Jika kita terlambat menemui ratu kita akan terjebak di sini setahun penuh. Kau tidak melupakan itu kan?”

“Oh Tuhan!  Aku lupa. Ayo kita harus bergegas kembali ke aula utama.” Kita langsung berlari menuju aula utamanya dan menemui Queen Valborga Zen untuk mengantar kami pulang.

Kami berlari mati-matian untuk sampai ke aula itu. Gila,  kakiku tidak tahan lagi. Bagaimana mungkin aku terlena oleh buku-buku tadi, sial. Untungnya kami masih bisa pulang. Queen Valborga Zen mengantar kami pulang.

Kriiing…. Suara bel itu terdengar lagi. Rasanya seperti saat kami masuk ke aphabetland, menyilaukan. Semuanya kembali putih dan kembali tak bisa kudengar apapun. Aku kembali tidak sadarkan diri.

Saat aku tersadar, kami sudah berada di gudang itu lagi. Semuanya seperti saat kami masuk dan benar sekali. Kami hanya seperti pergi beberapa detik saja padahal kami berada di alphabetland  cukup lama. Buku alphabet masih berada di tempatnya persis seperti saat kami masuk ke alphabetland. Pada lembar kertasnya kembali tertulis sesuatu, “Terimakasih telah mengunjungi tempat kami. Kami berharap kalian bisa menemukan buku ini lagi.”  Sesaat setelah itu buku alpabet mengilang entah kemana.

Semua telah kembali normal, aku kembali melanjutkan pekerjaanku. Sementara X sedang memperbaiki dinding yang ia jebol. Seharian kami berada di gudang itu. Uh sangat melelahkan. Badan kami sudah sangat menjijikan, penuh dengan debu dan wangi tidak sedap.

“Paman aku telah menyelesaikan tugasnya. Kini gudang di bawah tanah telah rapi. Apakan aku boleh pulang?”

“Ya terimakasih telah membereskannya K. Oh ya X, kau berhasil menemukannya?”

“Tentu saja Paman, misi sukses,” balas X dengan senyuman tipis di wajahnya.

“Mana mungkin kau menemukan buku seperti itu. Kau menghayal X. Sudah sana kalian harus segera pulang. Ini sudah hampir malam. X temani K sampai rumah ya.”

“Baiklah paman.”

Dengan sepeda hybridku, aku mengayuh sepedaku kembali pulang. X benar-benar menemaniku pulang. Wah sungguh hari yang sangat istimewa. Semua hal yang terjadi hari ini sulit di mengerti, seperti mimpi saja. Namun aku bahagia bisa menghabiskan waktuku bersama dia, X.