Bunga Melati – Bagian II

Bunga Melati – Bagian II

Samar samar suara itu ternyata suara adikku. Aku mulai melangkah keluar kamar untu mencari asal suara tersebut. Suara itu berasal dari bagian belakang rumah dekat dapur, udara dingin menghembus menerpa badanku, tambah merinding. Suara itu berasal dari ruangan sebelah kiri dapur, aku ingat, ruangan ini adalah ruangan yang ibu larang agar jangan dibersihkan tadi siang. Suara adik terdengar semakin jelas, dia terdengar seperti sedang berbicara, tapi tidak ada suara yang menjawabnya, ia berbicara sendiri… Deg! Pintunya terbuka, aku mencoba menengok ke dalam ruangan tersebut. Ruangannya gelap, entah kenapa adikku bisa tau letak ruangan itu. Saat kulihat, ternyata adikku sedang berbicara menghadap kearah dinding yang gelap, eh rasanya ada yang aneh. Aku terkejut sekaligus takut, tubuhku merinding tak karuan. Adikku sedang berbicara dengan sebuah lukisan. Lukisan seorang anak perempuan yang dibalut kebaya putih dengan bunga melati melekat di kuping kananya, bibirnya terseyum misterius.

“Adek, adek Intan…” panggilku,
sedikit berbisik kearahnya, dia tidak mendengar.
“Adek..adek….” panggilku sekali lagi, kini adikku menyadari keberadaanku. Dia kemudian berbalik memandangku, aku terkejut bukan kepalang.
“Eh kakak” aku mundur dua langkah. Yang membuatku takut adalah karena adikku memandangku dengan mata yang tertutup, tapi dia jelas mengetahui keberadaanku. Ia tersenyum kepadaku.
“Sini kakak, kenalin ini Laras, Laras ini kakak aku, Andra.” Dia berbicara lagi dengan lukisan itu seolah-olah mengenalkan lukisan itu kepadaku. Tubuhku gemetar hebat, kucoba mundur keluar dari ruangan itu, langkah mundurku terhenti menabrak sesuatu.. Deg! Ternyata ada seseorang yang berdiri di belakangku, melangkah masuk.
“Non Intan, kasih bunga melatinya ke Laras.” Seseorang itu adalah Mbok Tia, salah seorang pembantu nenek. Sekejap dia memandangku lalu mendekati adik, ia mengambil tiga tangkai bunga melati di tangan adik lalu menaruhnya tepat di bawah lukisan itu, ternyata disana banyak berserakan bunga melati yang sudah layu bunganya.
“Ayo Non” Mbok Tia menuntun adek keluar ruangan itu.
“Mari Non Laras.” Deg! Mbok Tia berbicara ke lukisan tersebut. Aku lalu mengikuti Mbok Tia keluar dari ruangan tersebut. Tiba-tiba ada suara benda jatuh dari ruangan tersebut, Mbok Tia hanya tersenyum ke padaku sambil terus menuntun adek. Aku coba mengintip ke dalam, Deg! Lukisan tersebut memandang lurus kearahku, mata kirinya mengedip, suara hembusan ringan terdengar samar di telingaku
“Hai Andra…” dengan cepat aku langsung berlari meninggalkan ruangan tersebut menuju ke kamar tidur. Tibanya di kamar, ada Mbok Tia yang baru saja menidurkan adek.
“Sini Non” Mbok Tia menuruhnya duduk di sampingnya.
“Non ingat liburan sekolah empat bulan yang lalu?” Tanya Mbok Tia kepadaku, aku mengangguk.
“Non Intan tak sengaja masuk ke dalam ruangan itu saat sedang bermain di dalam rumah. Saat itu Mbok liat Non Intan bicara sendiri, Mbok tahu Non Intan bicara dengan lukisan itu. Gadis di lukisan itu sebenarnya adalah Laras, Laras adalah almarhum putri nenekmu yang telah lama meninggal dunia. Laras meninggal dunia saat seumuran Non Intan. Ruangan itu dulu adalah kamar Non Laras. Non Laras suka skeali dengan bunga melati, sering ia menempelkan bunga melati itu di telinganya sebagai hiasan. Mbok kasih tau tentang bunga melati tersebut kepada adekmu. Jadi, setiap Non Intan kesini, Non Intan selalu membawa tiga tangkai bunga melati, Mbok menyesal sekali kasih tahu tentang bunga melati tersebut, karena Mbok tidah tahu kenapa Non Intan masuk ke ruangan itu selalu saat tengah malam.”
“Sudah ya Non Andra, sekarang Non tidur. Besok Non harus bangun pagi.” Mbok Tia Keluar dari kamar meninggalkan aku dan adikku. Aku terlelap dengan mudah seolah malam itu tak terjadi apa apa.

tamat.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.