Bunga Melati – Bagian I

Bunga Melati – Bagian I

Bagian I

Liburan tahun baru ini ibu mengajakku ke rumah nenek lagi. Liburan yang membosankan, kenapa tidak ke tempat lain yang lebih mengasyikan. Yang membuat membosankan adalah tidak ada hal yang bisa dilakukan di sana, kejenuhan yang ada. Tapi berbeda dengan adikku yang malah senang setiap berkunjung ke rumah nenek, entah hal apa yang membuatnya begitu.

“Kakak sudah beres-beresnya? Nanti kalo sudah selesai langsung masuk ke dalam mobil ya, harusnya kita sudah berangkat.” Ledek ibuku. Aku bergegas membereskan kamar dan barang barangku supaya tak kena omel ibu lagi.

“Ibu… bunga melatinya udah ada di mobil? “ Ini yang selalu membuatku risih. Setiap kami berkunjung ke rumah nenek, adikku selalu membawa tiga tangkai bunga melati. Wajar bukan jika itu membuatku penasaran. Aku tanya untuk apa bawa bunga melati segala, dia malah mendelekkan mata, menyebalkan sekali.

Dan seperti biasa setelah tiba di rumah nenek, ayah dan ibu ngobrol dengan penghuni rumah disana, aku hanya mendengarkan dan mengangguk seolah mengerti demi menghindari tatapan tajam ayah dari tadi. Setelah itu dilanjutkan dengan acara makan makan, yah setidaknya di sini dalam masalah makanan memang yang terbaik. Kami menginap di rumah nenek selama seminggu, tepatnya enam hari, enam hari yang membosankan. Adikku tampak ceria sekali kami ada di sini, yah sudah aku kira.

Di hari ketiga kami memancing ikan di kolam dekat rumah nenek. Cukup menyenangkan, walau tak menghilangkan rasa bosanku seperti biasa. Ikan yang berhasil kami pancing lalu dipanggang di atas perapian. Kami makan bersama keluarga nenek menghabiskan sore disana.

Hari terakhir kami di sana, aku, ayah dan ibu bersama sama membantu membersihkan rumah nenek. Aku kesal sekali , adikku tak nampak batang hidungnya. Kenapa ia tidak membantu kami juga, mungkin ia sedang bersenang-senang bermain di taman belakang rumah. Penat sekali rasanya seharian membersihkan rumah, memindahkan ini itu, membuang sampah, disuruh ayah ini itu, membantu ibu membuatkan minum. Sore menjelang, akhirnya selesai juga pekerjaan, semuanya telah dirapihkan. Saat aku sedang beristirahat di teras depan rumah, tiba-tiba adikku datang dari dalam berlari-lari kecil, aku kaget sekali, dari tadi aku membersihkan rumah tak tampang sekalipun adikku terlihat di dalam.

“Adek? dari mana saja?!” tanyaku dengan heran.

“Dari dalem, emang kenapa?”

“Kakak tadi bersih-bersih di dalam kok nggak liat adek sih?”

“Ya nggak tahu kak, dari tadi aku main terus sama laras di dalem kak” jawaban adikku malah membuatku makin bingung.

Laras? Laras siapa? Rasa rasanya belum pernah dengar nama Laras, di rumah nenek nggak ada yang namanya Laras.Tak ada saudara dekat atau jauh dari keluargaku yang bernama Laras. Ah mengapa hal itu mengganguku, mungkin adik main dengan teman khayalannya. Besok kan pulang, jadi liburan yang membosankannya sebentar lagi selesai.

***

Aku terbangun tengah malamnya. Tenggorokanku rasanya kering, haus. Aku memutuskan untuk mengambil minum namun tak memungkinkan untuk pergi sendiri. Aku memang penakut, apalagi tengah malam seperti ini.

“Dek, bangun, anter kakak cari minum.” Kataku agar adikku bangun. Tapi beberapa saat kemudian aku sadari bahwa adikku tidak ada di kasur, ia seharusnya tidur di sampingku. Aku turun dari tempat tidur mencari adik. Tiba-tiba terdengar samar-samar terdengar suara orang yang sedang berbicara, Deg! jantungku berdebar, bulu kudukku berdiri.

Leave a Reply