Bullying di Indonesia, Masihkah Kita Menutup Mata ?

Bullying di Indonesia, Masihkah Kita Menutup Mata ?

Pernahkah kita melihat peristiwa bullying di sekitar kita ? Bullying sudah menjadi kata yang tidak asing di telinga kita. Berbagai surat kabar mengulas begitu banyak kasus bullying setiap waktunya. Namun pernahkah kita peduli untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik ?

Bullying adalah perilaku agresif dimana seseorang memberikan perlakuan agresif yang bertujuan untuk melukai atau membuat korbannya merasa tidak nyaman. Bullying terjadi lewat perkataan, perbuatan, dan tindakan yang tidak menyenangkan yang dilakukan untuk mengintimidasi orang lain.  Menurut data dari Kementerian Sosial, sebanyak 84 % anak usia 12-17 tahun pernah menjadi korban bullying, sejak Januari hingga Juli 2017 tercatat sekitar 976 pengaduan dan di antaranya ada 117 kasus bullying. Saatnya kita membuka mata kita dan lebih peduli terhadap terpuruknya mental pelajar di Indonesia karena bullying ini.

Beberapa alasan mengapa kasus ini harus menjadi perhatian adalah banyaknya kasus tentang bullying yang bukan hanya satu atau dua kasus saja, namun begitu banyak. Hal ini akan berdampak buruk bagi kondisi mental sang korban maupun pelaku. Bagaimana tidak ? Dampak negatif dirasakan bukan hanya bagi korban namun juga bagi pelaku. Bagi korban, tindakan bullying ini dapat memicu depresi, tidak percaya dri, mengisolasi diri, rasa takut yang berkepanjangan, tertekan, malu untuk pergi ke sekolah, bahkan keinginan untuk bunuh diri. Pelaku bullying yang sudah kronis, akan membawa perilaku tersebut sampai dewasa dan memicu tidak kekerasan dan kriminal di masa yang akan datang.

Kasus bullying di Indonesia banyak dijumpai, terutama di lingkungan sekolah. Remaja merupakan masa yang rentan dalam kasus bullying. Sebagaimana data tentang kasus bullying yang terjadi, seharusnya menjadi tugas bagi orang tua, fasilitator pendidikan, bahkan pemerintah untuk lebih tanggap dalam mengatasi kasus bullying yang sudah menjamur di Indonesia saat ini. Di antara masyarakat mungkin ada yang berpikir bahwa bullying terjadi begitu saja dan penyebabnya adalah sang pelaku yang tidak memiliki perilaku yang baik. Namun, pernahkah kita berpikir mengapa pelaku bullying yang umumnya adalah remaja melakukan tindakan tersebut ? Jawabannya adalah bagaimana cara anak tersebut dibesarkan. Orang tua berperan penting dalam pembentukkan kebiasaan dan pola pikir anak. Pada kasus ini pelaku bullying yang ditelusuri latar belakangnya  kebanyakan memiliki masa kecil yang tidak baik. Perlakuan kasar dari orang tuanya, kurangnya perhatian, rendahnya apresiasi terhadap anak, dan tekanan dari orang tua yang selalu menuntut kebaikan terhadap anaknya dengan cara yang tidak baik seperti, ancaman, kekerasan fisik, dan kekerasan mental lainnya. Hal ini tentu berdampak buruk bagi mental sang anak, pasalnya ketika seorang anak ada di luar lingkungan keluarga, anak tersebut cenderung akan mengekspresikan bebannya, tekanan yang diterimanya kepada orang lain yang dianggap lebih lemah darinya. Bukan tanpa alasan, kurangnya perhatian dari orang terdekat  memicu pelaku bullying mencari perhatian terhadap sekitarnya dengan cara melakukan tindakan bullying. Dengan kata lain, pelaku berusaha mencari identitas dan pengaruhnya di lingkungan pergaulannya dengan cara yang salah. Inilah mengapa tugas pendidik amat berarti.

Pengaduan kasus bullying yang terjadi bukan satu-satunya yang harus dikhawatirkan. Namun, di luar sana banyak korban yang mengalami bullying tanpa pengaduan, itulah yang menjadikan kasus bullying amat memprihatinkan dan butuh pencegahan serta penanganan serius dari semua kalangan. Termasuk teman sebaya, orang tua, pihak sekolah, masyarakat, maupun pemerintah. Orang yang memiliki rasa kepedulian dan empati terhadap temannya memungkinkan rasa depresi bahkan keinginan untuk bunuh diri dapat dicegah sedini mungkin. Apalagi jika orang tua baik itu dari korban maupun pelaku yang langsung menangani kondisi anaknya dengan tanggap, seperti memberi lebih banyak perhatian dan kasih sayang, memberi nasihat dan motivasi secara bertahap sebagai langkah penanganan lebih lanjut. Pihak sekolah juga berperan penting dalam usaha mencegah kasus bullying lebih banyak terjadi, seperti tindakan tegas terhadap kenakalan siswa dan peduli terhadap pengaduan siswa, juga sarana bimbingan konseling yang terus ditingkatkan dapat mengurangi banyaknya kasus bullying yang terjadi. Juga pemerintah untuk secara tegas dan bertanggung jawab dalam memberi sanksi bagi pelaku juga rehabilitasi pelaku di bawah umur serta memberi keadilan pada si korban yang mengalami tindakan tidak menyenangkan dari lingkungan pergaulannya.

Pada akhirnya, permasalahan ini seolah menjadi cambuk bagi semua orang untuk lebih memerhatikan betapa banyak remaja Indonesia yang kehilangan masa depan karena perilaku bullying yang terus tumbuh dan kurang mendapat perhatian dari masyarakat. Betapa banyak generasi penerus bangsa yang rusak karena peristiwa ini. Kepedulian, rasa empati, tolong-menolong, dan kepekaan sosial yang tinggi sangat perlu kita tingkatkan agar kasus-kasus bullying dapat ditangani semaksimal mungkin. Dan untuk diri sendiri agar jangan sampai melakukan hal yang sama  karena kita tahu bahwa bullying adalah pisau tak kasat mata yang siap membawa kita ke dalam jurang keburukan yang kelam.

I’ve learned that people will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget ‘How you made them feel’ – (Maya Angelou)

Leave a Reply