Ayo Berhenti untuk Menulis

Ayo Berhenti untuk Menulis

Hutan Keramunting di Bukit Kecil-nya Tartila Tartusi-lah yang mengajak saya untuk bermimpi menjadi seorang penulis. Dengan tulisan yang sangat ringan hingga dapat dinikmati oleh saya yang nota bene baru kelas tiga SD saat itu. Saking hanyutnya saya dengan cerita buku tentang Ipul itu saya tak merasakan sakit sedikitpun saat mantri desa melakukan prosesi khitan malam itu. Ya, saya membaca buku itu saat saya dikhitan untuk menghilangkan rasa takut, gugup, dan sakit saya. Dan berhasil! Mungkin boleh dicoba.
Buku itu yang membuat saya berimajinasi, berpetualang, dan berkreasi hingga akhirnya ingin menjadi seorang penulis. Penulis buku yang ringan dan menyenangkan bagi anak-anak namun sarat makna hingga mampu membuat mereka melanglang buana dengan imajinasi dan dibuktikan dengan aksi dan kreativitasnya. Cerita yang tak hanya mengajak untuk tertawa tapi juga memberi arti secara nyata dalam hidup mereka. Pendeknya, cerita yang menginspirasi. Dari buku itu pula saya belajar bahwa cerita yang menginspirasi anak-anak tak perlu berliku-liku atau mengharu biru. Cukup sebuah karya yang bermakna dan mengena dengan kehidupan sehari-hari kita.
Sejak saat itu saya memutuskan berhenti untuk menulis. Ya, saya berhenti sejenak dari aktivitas saya yang lain untuk menulis, menulis apa yang bisa saya tulis, menulis ide yang tiba-tiba hinggap di kepala, menulis hingga sesuatu yang tak saya anggap penting atau bodoh sekalipun. Beberapa ide berkembang menjadi cerita utuh dan sisanya masih tergantung. Sia-sia? Tidak. Setiap tulisan ada makna dan harga yang dapat diambil meskipun tak utuh, setidaknya bagi saya. Siapa tahu ada momentum yang membuat saya terpaut dengan sebuah ide yang tak sempat saya lanjutkan. Siapa tahu? Hidup penuh kejutan, bukan?
Berhenti untuk menulis membuat saya tak pernah berhenti membaca. Karena bagi saya, bacaan adalah nyawa dari sebuah tulisan. Jangan harap kita dapat menulis jika kita tak sudi membaca. Tak hanya membaca buku tapi juga peristiwa di sekeliling kita. Iqra!
Berhenti untuk menulis membuat hidup saya lebih bermakna. Terlepas dari penghargaan atau gelar yang pernah saya dapat, tulisan yang saya buat dan saya publikasikan adalah kepingan-kepingan amal yang semoga dapat terus bergemerincing dalam kotak amal kehidupan saya meski saya sudah tak ada. Ekstrimnya, jikapun tak ada batu nisan penanda saya pernah hidup di dunia tapi ada karya saya sebagai penanda bahwa saya pernah ada dan berkarya.
Maka, mari kita berhenti untuk menulis. Mari kita mengikat makna dengan kata dan menginspirasi dengan narasi.

Leave a Reply