Sampai saat tulisan ini diketik, mereka adalah terindah. Mereka memanggilku, selalu. Untuk kembali kepangkuan mereka. Lalu, hatiku menyahut panggilan itu. Tapi tubuhku, waktuku dan kantong celanaku tak bisa menuruti permintaan sang hati.

Bahkan aku tak sempat melihat pemandangan lampu-lampu kota di malam hari. Summit Gede hampir saja siang waktu itu. Lalu pohon-pohon masih menutupi atap pangrango. Lalu apa yang indah? Bahkan aku tak sempat melihat awan dibawahku. Kabut Gede terlalu sering menutupi. Sesekali melihatkan kawahnya.

Entah, mereka selalu akrab. Seakan saling mebahu untuk bahagia sang tamu. Kandang badak adalah rehat, sebelum persimpangan dua trek hebat, mengantar kami ke puncak.

Alun-alun Surya Kencana di bahu Gede. Ada Lembah Mandalawangi di Pangrango. Edelweiss ada di masing-masing mereka. Keduanya seakan surga yang terus hidup, kau tak akan kekurangan air. Menawarkanmu sebuah kehidupan.

Sungguh aku rindu Mandalawangi. Tak pernah hati setenang ketika duduk disana. Segala risauku, kesahku, beban di benak dia hilangkan sejenak.

Maaf, tapi kau bukan rumahku. Aku masih punya rumah untuk pulang.        Tetaplah disana, tetaplah indah. Aku akan kembali.

Bandung, 18 Oktober 2017